China Tolak Permintaan Uni Eropa Batasi Ekspor Mobil Hybrid, Nilai Langgar Aturan WTO

China Tolak Permintaan Uni Eropa Batasi Ekspor Mobil Hybrid, Nilai Langgar Aturan WTO
China Tolak Permintaan Uni Eropa Batasi Ekspor Mobil Hybrid, Nilai Langgar Aturan WTO

MEDIALITERASI.CO.ID — Pemerintah China menolak permintaan Uni Eropa untuk membatasi ekspor mobil hybrid secara sukarela, dengan alasan skema itu melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia. Penolakan disampaikan Kementerian Perdagangan China setelah impor kendaraan hybrid buatan China ke Eropa melonjak dari sekitar 3.800 unit pada Oktober 2024 menjadi 50.000 unit pada Juli 2026.

Kementerian Perdagangan China menyatakan penolakan tegas terhadap permintaan Uni Eropa agar Beijing membatasi ekspor kendaraan hybrid ke kawasan tersebut secara sukarela. Juru bicara kementerian menegaskan skema voluntary export restrictions bertentangan dengan aturan WTO dan prinsip persaingan pasar yang adil.

"Pembatasan ekspor secara sukarela secara serius melanggar aturan WTO serta bertentangan dengan prinsip pasar dan persaingan yang adil. China dengan tegas menentangnya," kata juru bicara Kementerian Perdagangan China.

Sikap Beijing muncul setelah beredar laporan bahwa Uni Eropa meminta China membatasi ekspor kendaraan hybrid secara sukarela. Jika tidak ada kesepakatan, Eropa disebut dapat mempertimbangkan kenaikan tarif.

Lonjakan Impor Mobil Hybrid China ke Uni Eropa

Data yang dikutip CnEVPost menunjukkan impor mobil hybrid buatan China ke Uni Eropa melonjak tajam. Jumlahnya naik dari sekitar 3.800 unit pada Oktober 2024 menjadi 50.000 unit pada Juli 2026.

Pada periode yang sama, harga rata-rata kendaraan tersebut tercatat menurun. Kondisi itu membuat mobil hybrid China semakin kompetitif di pasar Eropa.

Peningkatan ini terjadi setelah Uni Eropa lebih dulu menerapkan bea masuk tambahan terhadap mobil listrik murni buatan China. Tarif untuk sejumlah BEV China bisa mencapai sekitar 45 persen jika digabung dengan bea yang sudah berlaku.

Sementara kendaraan hybrid masih dikenakan tarif sekitar 10 persen. Setelah kebijakan bea masuk BEV diterapkan, pertumbuhan ekspor mobil listrik murni China ke Eropa disebut relatif terbatas.

Mengapa Mobil Hybrid Jadi Titik Perselisihan Baru

Impor kendaraan hybrid yang justru melonjak membuat segmen ini menjadi titik baru dalam perselisihan perdagangan otomotif China dan Uni Eropa. Persaingan yang sebelumnya terpusat pada mobil listrik murni kini melebar ke kendaraan hybrid.

China menegaskan solusi apa pun yang dicapai dengan Uni Eropa harus mempertimbangkan kepentingan kedua pihak. Beijing juga menekankan penyelesaian itu perlu mengikuti aturan WTO dan hukum domestik masing-masing.

Selain itu, China meminta kepentingan industri otomotif di kedua wilayah tetap diperhatikan dalam setiap negosiasi. Posisi itu disampaikan di tengah tekanan Eropa yang mengancam menaikkan tarif jika pembatasan sukarela tidak tercapai.

Hingga kini belum ada kesepakatan resmi antara kedua pihak soal skema pembatasan ekspor kendaraan hybrid. Uni Eropa belum merinci bentuk tarif tambahan yang mungkin diterapkan jika negosiasi gagal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index