Krisis Gas Timur Tengah Ancam Stok Pupuk & Pangan Dunia

Krisis Gas Timur Tengah Ancam Stok Pupuk & Pangan Dunia
Efek Domino Konflik Hormuz: Gas Mahal, Pangan Terancam [FOTO: NET].

JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah rupanya tak cuma memukul pasar energi dunia. Hambatan distribusi pasokan gas alam cair (LNG) imbas kacaunya pelayaran di Selat Hormuz kini berdampak pada sektor vital masyarakat, yaitu pupuk dan pangan. 

Merujuk pada publikasi Gas Market Report Q3 2026 oleh International Energy Agency (IEA) pada Selasa (7/7/2026), meroketnya harga gas memberikan tekanan berat bagi sektor pupuk internasional.

 Melonjaknya ongkos produksi, terhambatnya suplai pupuk dari Teluk Persia, serta menurunnya kapasitas produksi di berbagai negara Asia merupakan rentetan imbas yang berisiko mengguncang ketahanan pangan dunia.

Untuk sektor pupuk, gas alam bukan sekadar penyuplai daya. Gas adalah material dasar terpenting untuk memproduksi pupuk nitrogen semacam amonia dan urea. Saat pasokan gas macet dan harganya melangit, ongkos pembuatan pupuk otomatis membengkak.

 IEA memandang bahwa konflik Timur Tengah ini menimbulkan efek domino yang menjangkau lebih dari sekadar pasar energi. 

Di samping menghambat lalu lintas LNG global, peperangan tersebut merombak pola perdagangan pupuk internasional yang selama ini sangat bertumpu pada kawasan Teluk.

Gas Mahal, Harga Pupuk Terkerek Naik

Berdasarkan catatan IEA, hambatan ekspor LNG via Selat Hormuz menyebabkan pasar gas global kembali menegang, padahal kondisinya sempat stabil di paruh kedua 2025.

 Terhitung sejak konflik pecah di akhir Februari 2026, kurang lebih 20 persen suplai LNG dunia yang biasanya melintasi perairan tersebut terkena dampaknya. 

Walau Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyepakati gencatan senjata sementara di pertengahan Juni 2026, kuantitas pengiriman LNG masih tertinggal jauh di bawah angka sebelum perang. Situasi pasokan yang serba terbatas ini membuat harga gas naik drastis.

Data IEA menunjukkan patokan harga gas Eropa (TTF) di kuartal kedua 2026 melonjak di kisaran 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menyentuh angka mendekati 16 dollar AS per juta British thermal units (MBtu). 

Di sisi lain, harga spot LNG Asia menurut Platts JKM naik sekitar 45 persen ke level rata-rata 17,5 dollar AS per MBtu, rekor kuartal kedua tertinggi semenjak krisis energi tahun 2022.

Lonjakan ini sontak memberatkan produsen pupuk. IEA menguraikan bahwa porsi gas alam menyumbang 70 hingga 80 persen dari total ongkos operasional pembuatan amonia dan urea. 

Melalui struktur pembiayaan tersebut, naiknya harga gas hampir secara otomatis langsung diterjemahkan menjadi pembengkakan biaya produksi pupuk.

Alhasil, harga pupuk meroket tajam. Banderol urea selama periode Maret sampai Mei 2026 melonjak hingga dua kali lipat lebih dibanding tahun lalu, mendekati 800 dollar AS per ton, yang mana merupakan titik tertinggi pasca krisis suplai gas 2022. 

Tak cuma urea, komoditas sulfur pun terbang lebih dari lima kali lipat menyentuh kisaran 900 dollar AS per ton. Karena sulfur adalah elemen krusial untuk membuat pupuk fosfat, lonjakan harganya turut memangkas profitabilitas produsen pupuk di banyak negara.

Selat Hormuz, Urat Nadi Perdagangan Pupuk Global

Laporan IEA menyoroti betapa masifnya dampak konflik Timur Tengah lantaran Teluk Persia adalah salah satu pusat produksi pupuk terbesar di dunia. Selat Hormuz memegang peranan sebagai jalur utama perdagangan aneka komoditas energi dan bahan baku pertanian. 

Menurut IEA, kawasan Teluk berkontribusi menyumbang sekitar 50 persen perdagangan sulfur via laut, sekitar 25 persen lalu lintas urea dunia, serta sekitar 18 persen perdagangan amonia global.

Tatkala konflik membuat pelayaran di Selat Hormuz praktis terhenti selama beberapa bulan, laju ekspor pupuk dari kawasan itu pun tersendat. 

Efeknya tak cuma menghantam negara-negara pembeli pupuk, namun juga sektor industri yang bergantung pada pasokan bahan baku dari Teluk. Berkurangnya pasokan ini membuat harga pupuk melambung sekaligus mempersempit ketersediaan produk di pasar internasional.

Menurut IEA, tekanan ini menjadi makin berat karena industri pupuk di berbagai negara juga mesti menghadapi naiknya ongkos energi akibat mahalnya harga gas alam.

Produksi Pupuk di Asia Mulai Terdampak

Kawasan Asia tergolong benua yang paling terpukul. Selain harus berhadapan dengan harga LNG yang lebih mahal, sejumlah negara juga mengalami seretnya suplai gas yang memaksa produksi pupuk melambat.

 Di Bangladesh, lima dari enam pabrik urea utama sempat menyetop operasinya di awal Maret. Walau sebagian fasilitas kembali beroperasi di awal Mei, hal ini membuktikan betapa sensitifnya industri pupuk terhadap pasokan gas.

Pakistan juga didera tekanan yang sama besarnya. IEA mencatat bahwa impor LNG Pakistan selama Maret hingga Juni anjlok lebih dari 70 persen dibanding tahun sebelumnya. Imbasnya, hasil produksi pupuk urea di negara itu menyusut sekitar 15 persen sepanjang Maret-April.

Sementara itu, pemerintah India menerbitkan Natural Gas (Supply Regulation) Order pada awal Maret untuk memprioritaskan distribusi gas bagi sektor pupuk. Berdasarkan kebijakan tersebut, pabrik pupuk memperoleh alokasi sekitar 95 persen dari rata-rata konsumsi gas mereka. 

Kendati begitu, pasokan gas menuju industri pupuk India faktanya tetap turun sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

IEA menilai situasi ini memperlihatkan bahwa bahkan intervensi dari pemerintah sekalipun tidak sepenuhnya sanggup mengimbangi dampak gangguan pasokan LNG global.

Efek Berantai Terhadap Pangan

Di mata IEA, persoalan ini tidak berhenti hanya pada kenaikan harga pupuk. Lembaga ini menilai bahwa tren tingginya harga pupuk yang berkepanjangan dapat memperbesar tekanan terhadap sistem pertanian sedunia.

 Harga pupuk yang mahal berpotensi mendongkrak biaya produksi pertanian, menekan tingkat produktivitas, yang pada ujungnya memengaruhi harga pangan.

Menurut IEA, wilayah yang paling rentan adalah negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor pupuk dan bahan pangan.

 Laporan itu secara khusus menyoroti bahwa lonjakan harga pupuk dapat memperburuk ketahanan pangan, terutama di kawasan Afrika yang sedari awal memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap fluktuasi harga komoditas global.

 Risiko ini dinilai kian masif apabila naiknya harga pupuk terjadi berbarengan dengan gangguan cuaca, termasuk fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi hasil panen di berbagai kawasan.

Pasar Gas Masih Belum Sepenuhnya Pulih

Kendati sudah ada kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran di pertengahan Juni, IEA melihat bahwa ketidakpastian masih sangat tinggi.

 Lembaga tersebut memperkirakan lalu lintas LNG lewat Selat Hormuz baru bisa pulih sepenuhnya di kuartal III 2026, sedangkan kilang LNG yang tidak rusak diproyeksikan kembali normal pada awal kuartal IV 2026. Namun, perkiraan ini masih bergantung pada syarat tidak adanya gangguan baru di infrastruktur maupun jalur pelayaran maritim Teluk.

Dalam proyeksinya, ketersediaan LNG global sepanjang tahun 2026 diperkirakan relatif stagnan. Merosotnya ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab diproyeksikan sebagian besar dapat ditambal oleh peningkatan produksi dari Amerika Utara, Afrika, dan Australia. 

Biarpun begitu, IEA mewanti-wanti bahwa sekecil apa pun keterlambatan pemulihan ekspor dari Teluk berpotensi kembali memperketat pasar gas dunia.

Pada saat yang sama, permintaan gas global justru diramalkan menyusut sekitar 0,5 persen atau sekitar 20 miliar meter kubik di 2026. Penurunan tersebut akan menjadi kontraksi tahunan ketiga di dekade ini sesudah 2020 dan 2022. 

Akan tetapi, lesunya permintaan ini tidak disebabkan oleh melimpahnya pasokan, melainkan karena harga gas yang masih tinggi sehingga industri serta pembangkit listrik di berbagai negara mulai menghemat konsumsi gas atau beralih ke sumber energi alternatif, termasuk batu bara.

Bagi pasar pangan dunia, kondisi ini adalah pengingat bahwa gejolak di sektor energi dapat menjalar seketika ke sektor pertanian. 

Sepanjang harga gas masih berada di level atas dan rantai pasok pupuk belum kembali utuh, tekanan terhadap biaya produksi pangan diperkirakan masih akan terus menghantui pasar global hingga penghujung tahun 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index