JAKARTA — Perusahaan di bawah naungan Grup Astra, PT United Tractors Tbk. (UNTR), membukukan volume penjualan alat berat untuk merek Komatsu sebanyak 1.690 unit selama periode Januari—Mei 2026. Perolehan ini mencatatkan penurunan jika disandingkan dengan kurun waktu yang sama pada tahun lalu.
Merujuk pada publikasi performa operasional bulanan, aktivitas penjualan alat berat milik UNTR tersebut merosot sebesar 28,05% dari capaian lima bulan pertama pada tahun 2025 yang kala itu menembus 2.349 unit. Akumulasi tersebut ditopang oleh pelepasan Komatsu sebanyak 610 unit di bulan Januari, 259 unit pada Februari, 238 unit pada Maret, 306 unit pada April, serta 277 unit pada Mei tahun ini.
Penyaluran Komatsu UNTR di sepanjang tahun berjalan hingga Mei 2026 didominasi oleh para pelanggan yang bergerak di sektor pertambangan dengan porsi 43%. Sektor lainnya mencakup agribisnis senilai 24%, bidang konstruksi 19%, serta sektor kehutanan dengan kontribusi sebesar 14%.
Adapun khusus pada bulan Mei saja, UNTR mendistribusikan sebanyak 277 unit Komatsu. Penjualan pada bulan tersebut ditopang oleh sektor agribisnis sebesar 53%, bidang konstruksi 19%, sektor pertambangan 16%, dan bidang kehutanan menyumbang 12%. Sementara itu, perolehan pangsa pasar Komatsu secara year to date sampai bulan April 2026 bertengger di angka 17%.
Corporate Secretary United Tractors Ari Setiyawan memaparkan bahwa perseroan mengubah sejumlah target operasional untuk tahun 2026, termasuk di antaranya proyeksi penjualan alat berat Komatsu, sebagai imbas dari pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada sektor pertambangan yang memicu penurunan permintaan pasar.
"Kami revisi target penjualan Komatsu menjadi sekitar 4.000 unit," ujar Ari kepada Bisnis belum lama ini.
Capaian teranyar yang ditargetkan tersebut terpantau lebih rendah jika disandingkan dengan proyeksi awal perseroan yang sebelumnya dipatok menyentuh 4.600 unit untuk tahun ini. Sebagai informasi, di sepanjang tahun 2025, United Tractors membukukan total penjualan alat berat Komatsu sebanyak 4.420 unit, atau menyusut 16% dari capaian tahun 2024 yang sukses menembus 5.270 unit.
Bukan cuma memotong proyeksi penjualan alat berat, United Tractors pun mengoreksi sejumlah sasaran operasional di lini lainnya.
Volume produksi batu bara serta overburden removal PT Pamapersada Nusantara diproyeksikan merosot di kisaran 15%—17%, sedangkan proyeksi penjualan batu bara lewat PT Tuah Turangga Agung diubah ke posisi kisaran 9,6 juta ton pada tahun 2026.
Di sudut lain, perseroan membidik target penjualan komoditas emas di kisaran 82.000 ons serta nickel ore di kisaran 1,2 juta wet metric ton (wmt) sepanjang tahun ini berjalan.
"Kami akan review kembali target apabila terdapat revisi atau pelonggaran RKAB pada semester II/2026," kata Ari.
Sebelumnya, Presiden Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro menyampaikan bahwa periode tahun 2026 menjadi tahun yang terbilang penuh tantangan untuk United Tractors, baik ditinjau dari sisi eksternal, dinamika geopolitik, hingga pergeseran regulasi, yang berdampak besar terhadap lini bisnis UNTR.
“Kami berusaha sebaik mungkin memitigasi seluruh tantangan yang kami hadapi dan di saat yang sama kami juga tidak berhenti untuk memikirkan jangka panjangnya seperti apa,” ucap Iwan dalam konferensi pers UNTR beberapa pekan lalu.
Iwan memproyeksikan situasi penuh tantangan bagi UNTR ini tampaknya masih bakal bergulir setidaknya hingga pengujung tahun ini. Iwan menyampaikan sepanjang kuartal I/2026, UNTR mengamati adanya tren penurunan penjualan alat berat, penyusutan volume produksi batu bara, serta merosotnya produksi emas sebagai dampak dari berhentinya aktivitas operasional tambang Martabe.
Guna merespons tantangan tersebut, Iwan menguraikan bahwa UNTR menjatuhkan pilihan pada siasat defensif, dengan berupaya seoptimal mungkin demi mengamankan lini bisnis yang dikuasai pada saat ini.