Harga Pangan

Update Harga Pangan Awal Ramadan 2026, Cabai, Bawang, dan Daging Kompak Naik

Update Harga Pangan Awal Ramadan 2026, Cabai, Bawang, dan Daging Kompak Naik
Update Harga Pangan Awal Ramadan 2026, Cabai, Bawang, dan Daging Kompak Naik

JAKARTA - Memasuki awal Ramadan, denyut aktivitas pasar tradisional dan modern kembali meningkat seiring kebutuhan masyarakat yang ikut bertambah. Di tengah lonjakan permintaan tersebut, harga sejumlah kebutuhan pokok tercatat mengalami kenaikan meskipun pemerintah memastikan kondisinya masih relatif terkendali.

Kenaikan harga pangan memang kerap menjadi sorotan setiap memasuki bulan puasa karena konsumsi rumah tangga cenderung meningkat. Namun demikian, pemerintah menegaskan telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif guna meredam gejolak yang berpotensi terjadi di pasar.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, sebagian besar komoditas sembako mengalami tren kenaikan. Meski begitu, pemerintah menilai pergerakan harga tersebut masih dalam batas wajar dan belum menunjukkan lonjakan ekstrem.

Tren Kenaikan Harga Cabai, Bawang, dan Beras

Data PIHPS Nasional mencatat harga cabai rawit merah mengalami kenaikan paling signifikan di antara komoditas lainnya. Komoditas ini naik 9,54 persen sehingga menjadi Rp 83.850 per kilogram (kg).

Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting yang meningkat 8,16 persen. Harga cabai merah keriting kini berada di level Rp 50.350 per kg.

Selain cabai, harga bawang merah turut mengalami kenaikan sebesar 5,68 persen. Saat ini bawang merah dijual dengan harga Rp 46.500 per kg.

Bawang putih ukuran sedang juga mengalami peningkatan harga meskipun relatif tipis. Komoditas tersebut naik 1,35 persen menjadi Rp 41.350 per kg.

Di sektor beras, kenaikan terjadi pada beras kualitas bawah I yang tercatat naik 3,13 persen. Harganya kini menjadi Rp 14.850 per kg.

Sementara itu, beras kualitas bawah II mengalami kenaikan sebesar 4,55 persen. Harga beras jenis ini berada di angka Rp 15.100 per kg.

Kenaikan harga beras menjadi perhatian tersendiri karena merupakan bahan pangan utama masyarakat. Meski demikian, pemerintah memastikan pasokan tetap terjaga sehingga tidak memicu lonjakan yang lebih tinggi.

Daging Ayam dan Sapi Ikut Terkerek

Tidak hanya komoditas hortikultura dan beras, harga daging juga menunjukkan tren kenaikan. Daging ayam ras tercatat naik 2,18 persen menjadi Rp 42.150 per kg.

Kenaikan serupa terjadi pada daging sapi kualitas I yang meningkat 1,74 persen. Harga daging sapi kualitas I kini mencapai Rp 145.900 per kg.

Adapun daging sapi kualitas II naik sebesar 2,83 persen. Harganya berada di posisi Rp 139.400 per kg.

Meningkatnya harga daging dinilai sejalan dengan naiknya permintaan menjelang Ramadan. Walaupun demikian, pemerintah menegaskan kondisi ini masih dalam taraf yang dapat dikendalikan.

Sejumlah Komoditas Masih di Atas HET

Menanggapi perkembangan tersebut, Menteri Perdagangan Budi Susanto menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau pergerakan harga di lapangan. Ia menyampaikan bahwa pengawasan dilakukan berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan.

Menurutnya, masih terdapat beberapa komoditas yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Meski demikian, secara umum harga bahan pokok dinilai relatif stabil.

“Ada memang yang di atas HET, misalnya MinyaKita. Hari ini harganya Rp 16.020 per liter, padahal HET-nya Rp 15.700 per liter,” ujar Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (18 Februari 2026).

Ia menjelaskan bahwa harga tersebut sebenarnya sudah menunjukkan perbaikan. Sebelum dilakukan intervensi, harga MinyaKita bahkan sempat menyentuh Rp 16.800 per liter.

“Sekarang sudah mengalami penurunan,” katanya.

Selain minyak goreng, telur ayam juga masih berada sedikit di atas HET. Harga telur ayam tercatat mencapai Rp 30.750 per kg, sementara HET ditetapkan Rp 30.000 per kg.

Namun demikian, tidak semua komoditas melampaui batas harga yang ditentukan pemerintah. Sejumlah bahan pokok justru masih dijual di bawah HET.

Daging sapi misalnya, saat ini dijual Rp 133.618 per kg dengan HET Rp 140.000 per kg. Begitu pula bawang putih yang dijual Rp 36.875 per kg, lebih rendah dari HET Rp 38.000 per kg.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mekanisme pasar masih bergerak dalam rentang yang dapat dikendalikan. Pemerintah pun terus melakukan evaluasi agar tidak terjadi lonjakan yang memberatkan masyarakat.

Langkah Antisipatif Jaga Stabilitas Harga

Pemerintah memastikan telah menyiapkan sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas harga menjelang dan selama Ramadan. Upaya ini dilakukan agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan ketersediaan pasokan di tingkat produsen maupun distributor. Pemerintah telah mengumpulkan para pelaku usaha untuk memastikan rantai pasok berjalan lancar.

“Kami sudah mengumpulkan para pelaku usaha untuk memastikan pasokan tersedia. Dari hasil pertemuan, pasokan dinyatakan aman dan tidak ada masalah,” ujarnya.

Dengan adanya kepastian pasokan, diharapkan tidak terjadi kepanikan di masyarakat yang dapat memicu aksi borong. Pemerintah juga terus melakukan pemantauan langsung ke pasar-pasar guna memastikan harga tetap terkendali.

Selain pengawasan, intervensi juga disiapkan apabila ditemukan lonjakan harga yang tidak wajar. Langkah tersebut diambil untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga sepanjang Ramadan. Upaya tersebut diharapkan mampu memberikan rasa tenang bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Kenaikan harga pada awal Ramadan memang menjadi fenomena yang berulang setiap tahun. Namun dengan koordinasi lintas sektor dan pengawasan intensif, pemerintah optimistis gejolak harga dapat tetap dikendalikan.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap bijak dalam berbelanja dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Dengan demikian, stabilitas pasokan dan harga dapat terus terjaga hingga akhir Ramadan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index