Kurs

Update Kurs Dolar AS Hari Ini 19 Februari 2026 di Bank-Bank Nasional

Update Kurs Dolar AS Hari Ini 19 Februari 2026 di Bank-Bank Nasional
Update Kurs Dolar AS Hari Ini 19 Februari 2026 di Bank-Bank Nasional

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah ke posisi Rp16.922 pada perdagangan Kamis, 19 Februari 2026. Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.05, rupiah tercatat turun sebesar 38 basis poin atau 0,23% menuju level Rp16.755 per dolar AS.

Indeks dolar AS secara bersamaan terpantau melemah 0,01% ke posisi 97,69. Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia juga mengalami depresiasi, seperti Yen Jepang 0,09%, dolar Hongkong 0,01%, won Korea 0,21%, Peso Filipina 0,12%, dan yuan China 0,05%.

Sementara itu, beberapa mata uang justru menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura naik 0,03%, baht Thailand menguat 0,24%, dan rupee India tercatat stagnan.

Perkiraan Pergerakan Rupiah oleh Analis

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp16.880–Rp16.920 per dolar AS pada perdagangan Kamis ini. Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut karena meningkatnya ketidakpastian global.

Ruang fiskal domestik yang terbatas turut menjadi beban bagi nilai tukar rupiah. Ketidakpastian pemotongan suku bunga AS di masa mendatang menjadi faktor utama memengaruhi pasar keuangan global.

Dolar AS pulih dari titik terendah mingguan setelah data penggajian non-pertanian yang dirilis pada Rabu, 18 Februari 2026. Data tersebut menunjukkan tanda ketahanan pasar tenaga kerja yang memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga AS.

Fokus Investor pada Inflasi dan Data Ekonomi AS

Perhatian pasar kini tertuju pada data inflasi indeks harga konsumen AS untuk Januari, yang dirilis pada Jumat, 20 Februari 2026. Inflasi dan kekuatan pasar tenaga kerja menjadi pertimbangan utama Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Pergerakan dolar AS juga dipengaruhi oleh ekspektasi investor terhadap respons bank sentral terhadap inflasi. Setiap perubahan kebijakan di AS dapat berdampak signifikan terhadap nilai tukar rupiah di pasar domestik.

Kondisi Ekonomi Domestik Indonesia

Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada di kisaran 5% pada 2026. Pertumbuhan ini terjadi di tengah perlambatan ekonomi Asia dan global secara umum.

Pelonggaran kebijakan moneter masih berpotensi berlanjut karena tren inflasi global cenderung menurun. Sikap bank sentral dunia yang tetap akomodatif menjadi faktor pendukung stabilitas rupiah jangka menengah.

Perlambatan pertumbuhan domestik sebagian dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap konsumsi swasta. Realisasi investasi juga menjadi faktor kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun, secara jangka menengah, fundamental ekonomi Indonesia tetap dianggap kuat. Hal ini menjadi penopang nilai tukar rupiah meskipun terjadi volatilitas sementara.

Kurs Dolar AS di Bank-Bank Nasional

PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) pada pukul 09.14 WIB menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp16.922 dan harga jual Rp16.942 untuk e-rate. Berdasarkan TT counter, BCA menetapkan harga beli Rp16.735 dan harga jual Rp17.035, sama dengan bank notes.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) pada pukul 09.11 WIB mematok harga beli dan jual masing-masing Rp16.908 dan Rp16.950 untuk e-rate. Untuk TT counter, BRI menetapkan harga beli Rp16.730 dan harga jual Rp16.930 per dolar AS.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (Mandiri) pada pukul 09.20 WIB menetapkan special rate Rp16.910 untuk beli dan Rp16.940 untuk jual. TT counter Mandiri mematok harga beli Rp16.650 dan jual Rp16.950, sama seperti bank notes.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) menetapkan special rates Rp16.927 untuk beli dan Rp16.947 untuk jual. Sementara TT counter dan bank notes BNI menetapkan harga beli Rp16.715 dan jual Rp17.015 per dolar AS.

Sentimen Global dan Dampaknya pada Rupiah

Tekanan terhadap rupiah sebagian besar berasal dari ketidakpastian global. Investor khawatir terhadap langkah Federal Reserve terkait suku bunga di tengah data ekonomi AS yang menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja.

Harga logam juga terdampak karena ekspektasi suku bunga AS. Hal ini menambah volatilitas pada pasar finansial global dan memberi tekanan tambahan pada rupiah.

Pergerakan mata uang Asia lain menunjukkan tren serupa, dengan mayoritas mengalami depresiasi. Hanya beberapa mata uang regional seperti baht Thailand dan dolar Singapura yang mencatat penguatan kecil terhadap dolar AS.

Prospek Rupiah dalam Jangka Menengah

Meski ada tekanan jangka pendek, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Pertumbuhan ekonomi yang stabil, pelonggaran moneter, dan tren inflasi global yang mereda menjadi faktor penopang rupiah.

Dengan sikap bank sentral dunia yang akomodatif, volatilitas rupiah diperkirakan dapat diredam. Investor domestik juga diharapkan tetap optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Perlambatan konsumsi swasta dan realisasi investasi menjadi perhatian, namun langkah-langkah fiskal dan moneter diharapkan dapat menjaga kestabilan. Fundamental yang kuat ini membuat rupiah tetap mampu menghadapi tekanan eksternal.

Rupiah Melemah Sementara Namun Fundamental Masih Kuat

Rupiah dibuka melemah ke Rp16.922 per dolar AS pada Kamis, 19 Februari 2026. Tekanan datang dari ketidakpastian global, ekspektasi suku bunga AS, serta volatilitas mata uang Asia lainnya.

Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik tetap kuat dengan pertumbuhan 5% pada 2026. Pelonggaran moneter, inflasi global yang menurun, dan akomodasi bank sentral dunia menjadi faktor penopang nilai tukar rupiah dalam jangka menengah.

Kurs dolar AS di berbagai bank seperti BCA, BRI, Mandiri, dan BNI menunjukkan perbedaan tipis. Hal ini mencerminkan dinamika pasar yang terus menyesuaikan diri terhadap sentimen global dan domestik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index