Kumpulkan Pegiat, Menteri LH Pelajari Pengelolaan Lingkungan di Bali

Kumpulkan Pegiat, Menteri LH Pelajari Pengelolaan Lingkungan di Bali
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Jumhur Hidayat.

jakarta - Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur Hidayat menghimpun para praktisi lingkungan di Denpasar demi mendalami kesuksesan yang diraih di Bali.

“Saya yang harus belajar dari masyarakat yang ada di sini, karena tidak betul kalau pemerintah serba tahu, banyak hal-hal yang kearifan lokal, kejeniusan lokal, yang kami bisa jadi tidak tahu, apalagi pemerintah pusat,” kata Menteri LH Jumhur Hidayat di Denpasar, Selasa.

Oleh sebab itu, Menteri LH menghimpun rekam jejak keberhasilan penataan lingkungan seperti yang dilakukan di Tukad Bindu Denpasar, tempat para aktivis lingkungan sukses mengubah area sekitar bantaran sungai menjadi zona hijau.

Didampingi para pegiat lingkungan serta Wali Kota Denpasar, Menteri LH juga ikut serta dalam kegiatan menanam pohon cendana di kawasan daerah aliran sungai.

“Kearifan lokal yang ada di Tukad Bindu ini mengelola sungai tadi saya mau belajar dan kemudian ada dialog kultural dengan daerah-daerah lain yang boleh jadi diadopsi sebagai cara untuk mengelola sungai dan lingkungan yang asri ini,” ujar Jumhur Hidayat.

Menteri LH menilai bahwa demi menunjukkan keseriusan dalam mengurus lingkungan, dibutuhkan tindakan-tindakan berani dan sarat akan pengorbanan.

“Seperti di sini ada Gung Nik yang agak gila, nekat, berani, dan mau berkorban, sebenarnya ada banyak di masyarakat yang bisa mengedukasi dari hulu ke hilir, bisa mengelola sungai demikian bersih dengan kearifan lokal yang ada,” ujar Jumhur Hidayat.

Menyaksikan langsung pergerakan para aktivis lingkungan di Bali, terkhusus di Denpasar, Menteri LH menegaskan bakal menyokong program-program pelatihan serta menjanjikan pemberian dana hibah demi menunjang kebutuhan edukasi lingkungan.

Ia berpendapat bahwa pembinaan semacam itu sangat krusial, ketimbang mendepak sektor usaha atau kelompok warga yang dinilai belum paham perihal cara menjaga kelestarian lingkungan.

Sebagai gambaran di Kota Denpasar, pemerintah kota (pemkot) memiliki aset 200 truk pengangkut sampah, sedangkan pihak swakelola mengoperasikan 700 armada.

 Dengan demikian, alih-alih mengusik mata pencaharian usaha swakelola tersebut, langkah yang lebih bijak ialah menyodorkan edukasi agar mereka ikut berubah.

“Tidak boleh ada yang tergusur, yang boleh malah terserap, penciptaan pekerjaan hijau, pembangunan ekonomi hijau tanpa menggusur, reskilling, dilatih mereka,” ucap Menteri LH Jumhur Hidayat.

Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara menganggap wilayah Denpasar memang belum sepenuhnya sempurna dalam urusan penanggulangan lingkungan, tetapi ia menegaskan Pemkot Denpasar senantiasa membimbing warga mengenai dampak buruk membuang sampah ke jalur sungai selaku bagian hulunya.

Hal yang menjadi hambatan saat ini, pihak pemerintah daerah memerlukan sokongan dari pemerintah pusat guna menyokong pendanaan kelompok peduli lingkungan, mengingat selama ini pergerakan mereka hanya mengandalkan suntikan dana CSR.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index