jakarta - Fenomena emotional distance atau munculnya renggang emosional antara orangtua dengan anak, walaupun secara fisik berdekatan, sedang marak dibicarakan di dunia maya.
Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor pemicu renggangnya ikatan antara orangtua dan anak ketika anak mulai bertumbuh dewasa.
Namun, bagaimana sudut pandang psikolog keluarga mengenai fenomena ini dan apa metode paling efektif untuk mencegah atau mengantisipasinya sejak dini? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Psikolog Klinis dan Keluarga Pritta Tyas mengungkapkan bahwa ikatan yang hangat antara orangtua dan anak sebenarnya bisa dibentuk lewat kegiatan yang sangat simpel, namun sering kali terabaikan, yaitu bermain bersama.
Menurut Pritta, bermain berfungsi sebagai ruang perantara bagi orangtua untuk menjalin kedekatan dan memahami watak anak, bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu senggang anak.
"Kalau mau mengingatkan anak PR, mau mengingatkan anak makan yang benar, tidur, semuanya dasarnya harus connection dulu. Anak trust sama kami, kualitas hubungannya baik," tutur Pritta dalam acara LEGO Playground "Main dan Jadi Hebat" di Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada Jumat (05/06/2026).
Pritta pun mengimbuhkan, salah satu metode menyusun kualitas hubungan yang baik dengan anak yaitu dengan ikut menyelami dunia anak melalui kegiatan yang mereka gemari, dan hal ini dapat dipelajari lewat momen bermain bersama anak.
Pritta memaparkan bahwa ada tiga kegunaan utama yang dapat membantu memperkokoh kedekatan orangtua dan anak. Apa saja hal tersebut?
1. Bermain membantu memperkuat koneksi emosional Pertama, bermain memicu komunikasi dua arah atau yang disebut Pritta sebagai "serve and return".
Contohnya, saat bermain, orangtua dan anak dapat melakukan suatu hal secara bergantian serta bekerja sama demi meraih tujuan kolektif.
"Jadi ada sesuatu yang dilakukan bergantian dan bersama-sama dengan anak, ada kolaborasinya di situ," kata Pritta.
Momen kolaborasi yang terkesan sederhana seperti ini membantu anak merasa diperhatikan sekaligus dilibatkan dalam komunikasi bersama orangtua.
2. Anak punya ruang untuk mengungkapkan perasaan Bermain memberikan jalan bagi anak untuk menyalurkan pikiran serta emosinya secara lebih lepas.
Pritta menguraikan, saat bermain anak biasanya lebih gampang menyampaikan apa yang tengah dirasakan, mulai dari kegembiraan, hambatan, hingga keinginan mereka akan suatu hal.
"Jadi kesempatan untuk anak mengutarakan pikiran dan perasaannya inilah yang terjadi selama masa bermain. Ini mengurangi kemungkinan emotional distance," tegas Pritta.
Melalui obrolan yang mengalir secara alami sewaktu bermain, orangtua juga dapat memahami keadaan emosional anak, bahkan saat mereka merasa sulit untuk menjabarkan apa yang ada di dalam benaknya.
3. Kesempatan memberi apresiasi kepada anak Manfaat penutup yang tidak kalah krusial dari bermain adalah peluang bagi orangtua untuk memberikan afirmasi positif kepada anak.
Saat bermain bersama, orangtua dapat memberikan pujian atas upaya, daya cipta, maupun keberhasilan kecil yang mampu diraih anak. Bentuk pujian ini membantu anak untuk merasa dihargai serta diakui.
Minimnya validasi dan pujian dari orangtua dapat memicu anak kesulitan untuk merasa puas atas pencapaiannya, bahkan saat anak sudah dewasa. Hal tersebut dapat diantisipasi lewat aktivitas bermain.
"Positive feedback, kalimat positif yang disampaikan orang tua ke anak, ini membuat anak selama masa bermain itu menjadi diapresiasi. Dan ini berpengaruh ke connection-nya," tutur Pritta.
Oleh sebab itu, di sela padatnya rutinitas harian, Pritta mengajak orangtua untuk tetap menyisihkan waktu bermain bersama anak.
Ikatan yang dibentuk melalui momen-momen simpel itu, menurut Pritta, dapat menjadi modal krusial bagi anak saat kelak menjumpai beragam hambatan di masa depan.
"Nah, connection ini yang sebenarnya menyelamatkan anak-anak dari berbagai tantangan, tantangan dia pergaulan sama teman-temannya, tantangan dari godaan untuk screen time berlebihan. Jadi, connection melalui bermain dan orang tua yang fokus menemani bermain, itu saya rasa satu hal yang harus diperjuangkan oleh orang tua,” tutup Pritta.