AirAsia

AirAsia Sebut Indonesia Pasar Internasional Terbaik, Siapkan 50 Pesawat dan Rute Bali–Da Nang Mulai 20 Maret 2026

AirAsia Sebut Indonesia Pasar Internasional Terbaik, Siapkan 50 Pesawat dan Rute Bali–Da Nang Mulai 20 Maret 2026
AirAsia Sebut Indonesia Pasar Internasional Terbaik, Siapkan 50 Pesawat dan Rute Bali–Da Nang Mulai 20 Maret 2026

JAKARTA - Di tengah persaingan maskapai berbiaya rendah yang semakin ketat di Asia Tenggara, AirAsia justru menempatkan Indonesia sebagai pasar internasional paling menjanjikan. Penilaian ini muncul ketika momentum pemulihan pascapandemi COVID-19 mulai membuka kembali ruang pertumbuhan baru bagi industri penerbangan.

Manajemen AirAsia mengakui bahwa kompetisi di rute domestik Indonesia masih tergolong berat. Namun di sisi lain, perusahaan melihat prospek besar pada penerbangan internasional dari dan menuju Indonesia.

“Saya rasa Indonesia jadi salah satu pasar paling menantang bagi kami secara domestik, tapi salah satu pasar terbaik kami secara internasional. Jadi, kami mungkin (maskapai) nomor satu di pasar internasional, tetapi nomor empat atau lima di pasar domestik (Indonesia),” kata CEO Capital A sekaligus penasihat AirAsia X (AAX) Tony Fernandes.

Pernyataan tersebut menegaskan posisi unik AirAsia di Indonesia. Secara domestik persaingan ketat, namun secara internasional perusahaan merasa berada di posisi terdepan.

Menurut Tony, AirAsia tidak hanya bertarung dalam perang tarif dengan maskapai lain. Strategi yang dibangun lebih berfokus pada penciptaan proposisi layanan yang berbeda.

“Kami menciptakan produk yang berbeda. Ada segmen penumpang yang menyukai produk kami,” ujarnya.

Pendekatan ini menjadi fondasi AirAsia dalam mempertahankan daya saingnya. Perusahaan membidik segmen tertentu yang merasa cocok dengan karakter produk dan layanannya.

Keterbatasan Armada dan Target Ekspansi 50 Pesawat

Di sisi operasional, ekspansi AirAsia Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menghadapi kendala armada. Keterbatasan jumlah pesawat menjadi faktor yang membatasi pertumbuhan kapasitas.

Saat ini AirAsia Indonesia mengoperasikan sekitar 28 pesawat. Tony menargetkan ekspansi hingga 50 pesawat dalam waktu dekat untuk memperkuat kapasitas dan daya saing.

Penambahan armada dinilai penting untuk mendukung pembukaan rute baru. Dengan jumlah pesawat yang lebih besar, fleksibilitas jaringan akan semakin meningkat.

Tony mengakui bahwa keterbatasan arus kas selama pandemi sempat menghambat proses perbaikan armada. Dampaknya, sebagian pesawat belum dapat dioperasikan secara optimal.

Namun seluruh pesawat ditargetkan sudah kembali beroperasi penuh pada Maret mendatang. Pemulihan armada ini diharapkan menjadi titik balik percepatan ekspansi.

Dengan armada yang kembali aktif sepenuhnya, AirAsia optimistis dapat memperkuat posisi di pasar domestik maupun internasional. Kapasitas tambahan akan menjadi modal penting menghadapi kompetisi.

Strategi Garap Wilayah Kurang Terlayani dan Destinasi Wisata

Ke depan, strategi pertumbuhan AirAsia tidak akan hanya berfokus pada rute-rute gemuk yang telah padat pemain. Maskapai ini justru membidik wilayah yang dinilai masih kurang terlayani.

Pendekatan tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat rute ke destinasi wisata unggulan. AirAsia melihat potensi besar di sejumlah daerah yang belum terhubung optimal.

"Kami melirik wilayah-wilayah tertentu yang masih kurang terlayani seperti Sulawesi, namun kami juga ingin membangun lebih banyak rute internasional ke tempat-tempat seperti Labuan Bajo dan Lombok. Ambon, misalnya, punya potensi yang sangat besar. Kami telah mengembangkan rute ke Toba dan Silangit,” kata pria yang juga merupakan Co-Founder AirAsia tersebut.

Fokus pada wilayah underserved diharapkan menciptakan pasar baru. Selain itu, konektivitas yang lebih baik dapat mendorong pertumbuhan pariwisata daerah.

AirAsia juga tengah mengembangkan konsep konektivitas “pulau ke pulau”. Konsep ini menghubungkan destinasi pantai populer di kawasan Asia Tenggara.

Salah satu rute yang segera dibuka adalah Bali–Da Nang, Vietnam. Rute tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada 20 Maret 2026.

“Kami ingin menghubungkan banyak pulau, seperti Bali dan Phuket. Membangun jaringan antar destinasi pantai,” ujarnya.

Strategi ini menempatkan Indonesia sebagai simpul penting jaringan wisata pantai regional. Bali menjadi salah satu titik utama dalam pengembangan rute tersebut.

Ekspansi Global dan Hub Bahrain untuk Perluas Jaringan

Selain penguatan di Indonesia, AirAsia X juga melakukan ekspansi global. Salah satu langkah strategisnya adalah menjadikan Bahrain sebagai hub baru.

Pengembangan hub Timur Tengah ini ditujukan untuk memperluas jaringan jarak jauh. Jaringan tersebut akan menghubungkan Asia, Timur Tengah, Eropa, hingga Afrika.

Ekspansi ini dinilai berpotensi membawa dampak positif bagi Indonesia. Peningkatan konektivitas global diyakini akan berdampak pada pertumbuhan kerja sama ekonomi.

Tony memandang bahwa konektivitas udara memiliki korelasi langsung dengan aktivitas bisnis. Semakin banyak rute dibuka, semakin besar peluang pertumbuhan perdagangan.

Ia mencontohkan pembukaan rute Kuala Lumpur–Bandung yang mendorong peningkatan aktivitas ekonomi. Dampak tersebut terlihat pada kenaikan frekuensi penerbangan dan perdagangan.

"Contohnya rute Kuala Lumpur-Bandung, hanya dengan membuka rute di sana, aktivitas belanja meningkat pesat, frekuensi penerbangan bertambah, dan perdagangan pun melonjak. Jadi, jika kami menambah lebih banyak penerbangan ke Afrika, hal itu pasti akan mendorong perdagangan antara ASEAN dan Afrika. Begitu pula saat kami membuka rute ke Kazakhstan, Hungaria, hingga Republik Ceko, volume bisnis pasti akan tumbuh. Itulah manfaat nyata dari sebuah konektivitas," tambahnya.

Dengan strategi armada yang dipulihkan, ekspansi rute internasional, serta pengembangan hub global, AirAsia berharap dapat memperkuat kembali posisinya di pasar Indonesia. Perusahaan melihat kombinasi konektivitas regional dan global sebagai kunci pertumbuhan berkelanjutan di masa mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index