BPS

BPS Catat 147,91 Juta Penduduk Bekerja, Pasar Tenaga Kerja Indonesia Menguat Akhir 2025

BPS Catat 147,91 Juta Penduduk Bekerja, Pasar Tenaga Kerja Indonesia Menguat Akhir 2025
BPS Catat 147,91 Juta Penduduk Bekerja, Pasar Tenaga Kerja Indonesia Menguat Akhir 2025

JAKARTA - Pergerakan pasar tenaga kerja Indonesia menjelang akhir 2025 menunjukkan dinamika yang cukup signifikan. Data terbaru memperlihatkan adanya pergeseran sekaligus penguatan di sejumlah sektor utama perekonomian.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik, jumlah penduduk bekerja di Indonesia justru mencatatkan kenaikan. Kondisi ini menjadi indikator penting bagi arah pemulihan dan stabilitas pasar kerja nasional.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa hingga November 2025 jumlah penduduk Indonesia yang bekerja mencapai 147,91 juta orang. Angka tersebut berasal dari total 155,27 juta orang angkatan kerja nasional.

Capaian ini mencerminkan bahwa sebagian besar penduduk usia kerja telah terserap di pasar tenaga kerja. Pemerintah menilai kondisi ini sebagai sinyal positif bagi perekonomian nasional.

Sektor Penyerap Tenaga Kerja Terbesar Masih Didominasi Tiga Bidang

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa terdapat tiga sektor utama dengan jumlah pekerja paling besar. Ketiga sektor tersebut masih menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja nasional.

Sektor pertanian tercatat sebagai penyerap tenaga kerja terbesar. Proporsinya mencapai 27,99% dari total penduduk bekerja.

Posisi kedua ditempati oleh sektor perdagangan. Kontribusi sektor ini terhadap penyerapan tenaga kerja mencapai 18,67%.

Sementara itu, sektor industri pengolahan berada di urutan ketiga. Industri pengolahan menyerap sekitar 12,86% dari total tenaga kerja nasional.

Ketiga sektor tersebut menunjukkan peran strategis dalam menjaga stabilitas lapangan kerja. Dominasi ini juga mencerminkan struktur ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada sektor-sektor tersebut.

Pemerintah dan pelaku usaha dinilai perlu terus menjaga kinerja sektor-sektor utama ini. Upaya peningkatan produktivitas dianggap penting agar daya serap tenaga kerja tetap terjaga.

Kenaikan Tenaga Kerja Terbesar Terjadi di Sektor Jasa Akomodasi

Selain melihat komposisi sektor terbesar, BPS juga mencatat sektor dengan kenaikan tenaga kerja paling signifikan. Perbandingan dilakukan antara Agustus 2025 dan November 2025.

“Sedangkan peningkatan kerja terbanyak pada November 2025 dibandingkan Agustus 2025 adalah akomodasi dan makanan, minuman naik sebesar 0,381 juta orang,” tutur Amalia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Kamis, 5 Februari 2026.

Kenaikan ini menunjukkan mulai pulihnya aktivitas ekonomi berbasis konsumsi dan jasa. Sektor akomodasi serta makanan dan minuman dinilai kembali bergairah.

Selain sektor tersebut, industri pengolahan juga mencatatkan peningkatan jumlah tenaga kerja. Kenaikannya mencapai 0,196 juta orang dalam periode yang sama.

Sektor perdagangan turut mengalami pertumbuhan tenaga kerja. Jumlah pekerja di sektor ini meningkat sebanyak 0,168 juta orang.

Pertanian juga mencatat tambahan tenaga kerja meski tidak sebesar sektor lainnya. Jumlah pekerja di sektor ini bertambah sekitar 0,161 juta orang.

Kenaikan di berbagai sektor ini menunjukkan pemulihan yang relatif merata. Meski demikian, laju pertumbuhan antar sektor masih berbeda-beda.

Sektor yang Mengalami Penurunan Jumlah Pekerja

Di balik kenaikan tersebut, tidak semua sektor mencatatkan kinerja positif. Beberapa lapangan usaha justru mengalami penurunan jumlah tenaga kerja.

Lapangan usaha aktivitas jasa lainnya menjadi salah satu sektor yang mengalami penurunan. Jumlah tenaga kerja di sektor ini turun sebanyak 54.000 orang.

Selain itu, sektor pengadaan listrik dan gas juga mengalami kontraksi tenaga kerja. Penurunannya tercatat sebesar 8.000 orang.

Penurunan ini mencerminkan adanya penyesuaian struktural di beberapa sektor tertentu. Faktor efisiensi dan perubahan kebutuhan pasar diduga menjadi penyebabnya.

Meski demikian, secara agregat kondisi pasar kerja nasional masih menunjukkan tren positif. Kenaikan di sektor lain mampu menutupi penurunan yang terjadi.

Pemerintah dinilai perlu mencermati sektor-sektor yang mengalami kontraksi. Langkah antisipatif dibutuhkan agar penurunan tidak berlanjut.

Gambaran Penduduk Usia Kerja dan Angkatan Kerja

BPS juga mencatat perkembangan jumlah penduduk usia kerja nasional. Hingga November 2025, jumlah penduduk usia kerja mencapai 218,85 juta orang.

Angka tersebut meningkat sebanyak 681.000 orang dibandingkan Agustus 2025. Peningkatan ini menunjukkan adanya tambahan potensi tenaga kerja baru.

Dari total penduduk usia kerja tersebut, sebanyak 155,27 juta orang masuk dalam kategori angkatan kerja. Jumlah ini meningkat 1,26 juta orang dibandingkan Agustus 2025.

Peningkatan angkatan kerja menandakan semakin banyak penduduk yang aktif secara ekonomi. Hal ini mencerminkan optimisme masyarakat terhadap peluang kerja.

Sementara itu, jumlah penduduk yang bukan angkatan kerja tercatat sebanyak 63,68 juta orang. Angka ini turun 580.000 orang dibandingkan Agustus 2025.

“Jadi jumlah angkatan kerja meningkat, dan bukan Angkatan kerja menurun,” kata Amalia. Pernyataan ini menegaskan arah pergerakan pasar tenaga kerja.

Kondisi Pengangguran dan Status Pekerjaan

Dari total angkatan kerja sebanyak 155,27 juta orang, mayoritas telah terserap di dunia kerja. Jumlah penduduk bekerja tercatat sebanyak 147,91 juta orang.

Jumlah tersebut meningkat 1,37 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Kenaikan ini menjadi sinyal positif bagi pasar tenaga kerja nasional.

Sementara itu, jumlah pengangguran mencapai 7,35 juta orang. Angka ini turun sebanyak 109.000 orang dibandingkan periode sebelumnya.

Penurunan pengangguran menunjukkan adanya perbaikan kesempatan kerja. Meski demikian, tantangan penciptaan lapangan kerja tetap menjadi perhatian utama.

Amalia juga memerinci status pekerjaan dari penduduk yang bekerja. Data ini memberikan gambaran lebih detail mengenai kualitas pekerjaan.

Jumlah pekerja penuh tercatat sebanyak 100,49 juta orang. Angka ini meningkat 1,8 juta orang dibandingkan Agustus 2025.

Pekerja paruh waktu tercatat mencapai 35,85 juta orang. Jumlah ini justru mengalami penurunan sebanyak 438.000 orang.

Selain itu, setengah pengangguran tercatat sebanyak 11,55 juta orang. Angka tersebut turun sekitar 42.000 orang.

Perubahan ini menunjukkan pergeseran ke arah pekerjaan penuh. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal perbaikan kualitas pekerjaan.

BPS menilai struktur pasar kerja Indonesia menunjukkan tren yang semakin solid. Namun, peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja tetap menjadi agenda penting ke depan.

Dengan dinamika tersebut, pasar tenaga kerja nasional memasuki 2026 dengan modal yang relatif positif. Pemerintah diharapkan terus menjaga momentum ini melalui kebijakan yang tepat sasaran.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index