Likuiditas Jadi Fokus, DPK Bank Danamon Tetap Sesuai Target

Selasa, 14 Juli 2026 | 17:45:02 WIB
Ilustrasi Bank Danamon Indonesia. [Foto: via Kontan.co.id]

JAKARTA - PT Bank Danamon Indonesia Tbk menyatakan bahwa pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perusahaan masih berjalan sesuai dengan target hingga akhir tahun 2026, dengan menempatkan penguatan aspek likuiditas sebagai salah satu fokus utama di tengah ketatnya kompetisi penghimpunan dana pada industri perbankan.

Chief Strategy Officer Bank Danamon Reza Iskandar Sardjono mengutarakan bahwa perusahaan bakal terus mempertahankan laju pertumbuhan DPK lantaran kecukupan likuiditas menjadi salah satu poin krusial untuk memelihara tingkat kesehatan bank.

“Menurut saya (pertumbuhan DPK) masih on track. Kami akan terus menjaganya karena itu memang salah satu kunci kesehatan bank. Likuiditas menjadi fokus utama kami,” kata Reza usai Media Luncheon HUT ke-70 Danamon di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Menurut penjelasannya, peta jalan pengumpulan dana dijalankan lewat penguatan ekosistem bisnis, yang meliputi sektor otomotif, fast moving consumer goods (FMCG), bidang pendidikan, sektor properti Jepang, serta layanan haji dan umrah.

Ia memaparkan bahwa metode financial supply chain memberikan peluang bagi perputaran dana dari produsen, distributor, subdistributor, hingga level konsumen untuk tetap bergulir di dalam lingkaran ekosistem nasabah Danamon, sehingga menyokong pertumbuhan dana pihak ketiga secara berkelanjutan.

Di samping itu, perusahaan konsisten meningkatkan kapasitas digital dengan menyematkan fitur-fitur layanan baru secara berkala demi mendongkrak intensitas aktivitas transaksi nasabah sekaligus menjaga daya saing korporasi.

Merujuk pada rapor kinerja kuartal I 2026, akumulasi kredit dan trade finance Danamon terangkat sekitar 9 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp216,2 triliun, sementara pos giro, tabungan, dan deposito melonjak sekitar 16 persen ke angka Rp176,1 triliun.

Sementara itu, Consumer Funding and Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya menyebutkan perusahaan terus menyelaraskan kebutuhan untuk pendanaan jangka pendek serta jangka panjang di tengah persaingan ketat penyerapan dana.

Menurut dia, langkah penyesuaian suku bunga diterapkan secara selektif lewat pertimbangan matang terhadap kebutuhan nasabah, tren kondisi pasar, serta arah kebijakan dari pemerintah dan pihak regulator.

“Kami tidak serta-merta menaikkan semua suku bunga, baik suku bunga kredit maupun deposito,” ujar Ivan.

Ia menguraikan bahwa taktik utama perusahaan bukan sekadar bertumpu pada penyesuaian harga (pricing), melainkan juga memacu aktivitas transaksi agar volume dana murah kian menebal dan biaya dana (cost of fund) dapat terus ditekan.

Berdasarkan penilaian Ivan, akselerasi transaksi memberikan ruang bagi penghimpunan dana murah agar berjalan lebih optimal, sehingga pihak bank memiliki fleksibilitas untuk menyodorkan suku bunga kredit yang jauh lebih kompetitif kepada publik.

Ia mengimbuhkan bahwa target ekspansi kredit hingga penghujung tahun 2026 tetap dipatok pada rentang dua digit rendah atau berkisar antara 10 hingga 15 persen, sedangkan pergerakan pertumbuhan DPK diharapkan dapat beriringan dengan ekspansi penyaluran pembiayaan tersebut.

“Pertumbuhan kredit di kisaran low double digit, antara 10 sampai 15 persen, selalu menjadi target kami. Untuk dana juga mengikuti,” ungkap dia.

Pada skala industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis data bahwa dana pihak ketiga perbankan pada Mei 2026 melaju 13,49 persen secara tahunan hingga menyentuh Rp10.294 triliun. 

Tren positif ini disokong oleh pertumbuhan giro sebesar 20,53 persen, deposito 10,17 persen, serta tabungan 10,21 persen.

Kondisi likuiditas sektor perbankan pun dipastikan tetap tebal, yang diindikasikan oleh rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) di level 108,20 persen dan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 24,74 persen, angka yang berada jauh di atas batas minimal masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Di sudut lain, Bank Indonesia memproyeksikan laju pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 bakal bertengger di kisaran 8 hingga 12 persen, sejalan dengan kondisi likuiditas perbankan yang tetap kuat serta tren pertumbuhan dana pihak ketiga yang terus berlanjut.

Terkini