BEI: Minat IPO Terjaga, 5 Emiten Antre Incar Dana Rp2,47 Triliun

Kamis, 09 Juli 2026 | 22:16:01 WIB
BEI Pastikan Instrumen Ekuitas Masih Diminati Calon Emiten [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa ketertarikan korporasi dalam menjaring pendanaan lewat mekanisme penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) berada dalam kondisi aman. 

Sampai pada awal Juli 2026, tercatat masih ada lima emiten yang masuk dalam antrean (pipeline) pencatatan saham dengan target perolehan dana menyentuh Rp2,47 triliun. 

Walau demikian, intensitas kegiatan IPO di sepanjang tahun ini memang terhitung lebih sepi jika dikomparasikan dengan periode beberapa tahun ke belakang.

“Saat ini juga terdapat 5 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI dengan total target himpunan dana sebesar Rp 2,47 triliun, yang menandakan bahwa instrumen ekuitas tetap diminati oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin, Kamis (9/7/2026).

Saidu menjabarkan, tingginya antusiasme pelaku usaha dalam memanfaatkan keberadaan pasar modal tercermin pula melalui aktivitas penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). 

Hingga tanggal 9 Juli 2026, bursa telah mencatatkan sebanyak 71 emisi EBUS yang bersumber dari 43 perusahaan, di mana total pendanaan yang sukses dihimpun menyentuh nominal Rp76,1 triliun.

Menurut pandangannya, kecenderungan pergerakan tersebut masih sejalan dengan realisasi pada tahun-tahun sebelumnya. Upaya penghimpunan modal lewat obligasi maupun sukuk secara umum tetap mendominasi ketimbang perolehan dari sektor IPO.

“Hal ini sejalan dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana penghimpunan dana melalui emisi EBUS lebih tinggi dari penghimpunan dana melalui pencatatan saham,” paparnya.

Saidu tidak menampik jika intensitas penjaringan dana lewat skema IPO mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan rekam jejak beberapa tahun terakhir. Walakin, pihak BEI tidak memosisikan jumlah modal yang dijaring sebagai satu-satunya indikator pencapaian keberhasilan.

“Jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, kegiatan penghimpunan dana melalui pasar modal, khususnya IPO, memang lebih sedikit pada tahun ini. Namun, kami tidak menilai keberhasilan kami hanya berdasarkan nilai nominal dari kegiatan penghimpunan dana,” pungkas dia.

Bertindak selaku otoritas penyelenggara aktivitas pasar modal, BEI secara konsisten terus mengamati pergerakan pasar serta dinamika di sektor dunia usaha guna menyelaraskan kebijakan dengan apa yang diperlukan oleh para pelaku pasar. 

BEI juga tengah menerapkan delapan Aksi Reformasi Pasar Modal yang diproyeksikan untuk mengeskalasi keterbukaan informasi, mempertegas proteksi bagi pemodal, serta memacu pertumbuhan iklim investasi yang berkelanjutan.

Pada rentang Maret 2026, pihak bursa telah memperbarui ketentuan Peraturan I A terkait Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat. 

Regulasi anyar ini digulirkan dengan maksud mendongkrak kualitas korporasi yang melantai, mengokohkan tata kelola, sekaligus memaksimalkan aspek proteksi untuk para investor.

BEI menaruh harapan besar agar bermacam langkah pembaruan regulasi tersebut mampu melahirkan iklim pasar modal yang semakin kondusif, sehingga korporasi memiliki keleluasaan dalam menggelar agenda IPO ataupun tindakan korporasi lainnya pada momentum yang paling tepat.

Bukan sekadar memperkuat payung regulasi, BEI juga secara simultan melangsungkan langkah edukasi, pendampingan, hingga sosialisasi yang menyasar korporasi potensial di bermacam daerah serta bidang industri. 

Paket program ini di antaranya mencakup Go Public Seminar, coaching clinic, masterclass, hingga agenda diskusi one on one dengan calon perusahaan publik.

Pihak bursa pun menyediakan kanal khusus gopublic.idx.co.id yang difungsikan sebagai pusat penyedia data terkait alur serta persiapan melantai di bursa.

 Laman internet ini sekaligus dioperasikan menjadi jembatan bagi korporasi yang berniat mengajukan konsultasi awal maupun pertemuan tatap muka secara eksklusif dengan BEI.

Terkini