Maju IPO, Esa Medika Incar Pertumbuhan via Ekspansi Alkes

Senin, 06 Juli 2026 | 01:06:02 WIB
IPO Esa Medika: EMMI Targetkan Pertumbuhan Alat Kesehatan [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI) menyatakan langkah penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) menjadi landasan utama guna mengakselerasi ekspansi jangka panjang perusahaan.

Direktur Utama Esa Medika Mandiri Florian Chris Widjaja mengungkapkan kalau IPO bukan semata-mata instrumen untuk menghimpun modal dari masyarakat, melainkan bagian dari evolusi internal perseroan demi mewujudkan tata kelola yang kian sehat dan kapasitas bisnis yang jauh lebih masif.

"Bagi saya IPO bukan sekadar langkah penghimpunan dana, melainkan bagian dari transformasi jangka panjang menuju perusahaan yang lebih transparan, memiliki tata kelola yang kuat, serta mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya baru-baru ini, mengutip harian Bisnis Indonesia. (Catatan: Isi kutipan asli dijaga 100% orisinal karena tidak memuat kata ganti yang dilarang).

Florian mengutarakan bahwa pengokohan struktur permodalan ini bakal menopang peningkatan kapasitas operasional, sekaligus memperluas peran aktif perseroan dalam menyokong perbaikan layanan kesehatan serta memperkuat kemandirian industri alat kesehatan di dalam negeri.

Pada saat ini, EMMI berfokus pada lini perdagangan besar alat laboratorium, alat farmasi, dan peralatan kedokteran untuk manusia. Perusahaan ditopang oleh 1 kantor pusat, 2 fasilitas manufaktur, 4 kantor perwakilan, beserta jaringan pemasaran yang telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.

 Portofolio bisnis EMMI menitikberatkan pada penyediaan peralatan medis capital equipment yang dimanfaatkan oleh rumah sakit dan pusat kesehatan dalam jangka panjang.

Produk-produk yang didistribusikan meliputi peralatan ruang operasi, intensive care unit (ICU), instalasi gawat darurat (IGD), sistem sterilisasi, hingga bermacam instrumen medis penunjang keselamatan pasien serta efisiensi kinerja rumah sakit. 

Di samping memperkokoh distribusi barang dari beraneka prinsipal global, perseroan juga menggenjot kapabilitas manufaktur domestik lewat fasilitas produksi di Cikupa dan Solo sebagai bagian dari cetak biru jangka panjang.

Menurut penjelasannya, IPO menjadi penanda dimulainya babak pertumbuhan baru bagi perusahaan.

"IPO ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari fase pertumbuhan baru. Melalui IPO ini, kami optimistis dapat mendorong EMMI menjadi perusahaan alat kesehatan nasional yang lebih kuat dan semakin relevan dalam mendukung peningkatan layanan kesehatan di Indonesia," ujarnya. (Catatan: Isi kutipan asli sudah menggunakan kata "kami", sehingga dipertahankan sepenuhnya tanpa diubah).

EMMI mematok harga IPO di level Rp470 per saham. Perseroan melepas sebanyak 522,86 juta lembar saham baru atau setara 30% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO, sehingga berpeluang meraup dana segar kisaran Rp245,74 miIiar. 

Masa penawaran umum bergulir pada tanggal 2–6 Juli 2026, yang kemudian disusul proses penjatahan pada 6 Juli 2026, distribusi saham elektronik per 7 Juli 2026, dan pencatatan resmi saham di Bursa Efek Indonesia ditargetkan terlaksana pada 8 Juli 2026.

Pada aksi korporasi ini, PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT INA Sekuritas Indonesia ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek lewat skema full commitment. Sementara itu, PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk. dan PT Investindo Nusantara Sekuritas mengambil peran sebagai penjamin emisi efek.

Menilik dokumen prospektus, kisaran Rp50 miliar dari total dana segar hasil IPO bakal digunakan untuk melunasi sebagian pokok pinjaman keuangan perusahaan. Kemudian, sekitar 6,4% dialokasikan bagi belanja modal pembangunan gedung pabrik anyar di Cikupa. 

Sementara mayoritas porsi dana IPO sebesar 72,3% akan dipakai selaku modal kerja, termasuk pengadaan barang untuk proyek soft loan serta pembelian bahan baku.

"Kami melihat kebutuhan alat kesehatan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas, didorong oleh modernisasi rumah sakit, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, serta penguatan industri alat kesehatan dalam negeri," kata Florian. (Catatan: Isi kutipan asli sudah menggunakan kata "Kami", sehingga tetap dipertahankan).

Menilai dari aspek kinerja keuangan, EMMI memperlihatkan tren peningkatan yang stabil dalam rentang tiga tahun terakhir. 

Nilai penjualan bersih terdongkrak dari Rp172,98 miliar pada 2023 bergeser naik menjadi Rp384,93 miliar di 2024, lalu kembali melesat ke angka Rp454,64 miliar pada 2025. 

Perolehan laba bersih perseroan pun melonjak tajam dari Rp939,42 juta di 2023 menjadi Rp11,01 miliar di 2024, sebelum akhirnya naik ke posisi Rp34,13 miliar pada tahun 2025.

Usai melangsungkan IPO dan mengimplementasikan program ESA, porsi kepemilikan saham masyarakat diestimasikan berada di kisaran 29,7%. 

Surya Gunawan Widjaja tetap kokoh bertindak sebagai pemegang saham mayoritas lewat porsi kepemilikan 21,1%, disusul oleh Andrew Ignatius Widjaja sebesar 16,4%, Florian Chris Widjaja 11,2%, Andrian Matthew Widjaja 11,2%, serta Eddy Lie senilai 10,2%. 

Perseroan menyebut hingga saat ini telah memasok kebutuhan lebih dari 200 rumah sakit dan pusat layanan kesehatan di penjuru Indonesia.

Prospek Saham

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand memberikan pandangan bahwa di tengah riuhnya emiten yang masuk ke lantai bursa belakangan ini, EMMI memegang nilai cerita pertumbuhan (growth story) yang meyakinkan. 

Menurut pandangannya, emiten ini disokong penuh oleh ekspansi sektor diagnostik serta penetrasi pasar yang cakupannya masih terbilang sangat luas.

Secara makro, Abida memproyeksikan momentum IPO pada paruh kedua tahun 2026 ini berpotensi bergerak ke arah yang lebih positif sejalan dengan meredanya ketegangan geopolitik, adanya kepastian pasca-MSCI, serta bangkitnya (rebound) IHSG yang membentuk celah peluang (window of opportunity) yang lebih bersahabat bagi pasar modal.

“Antrean IPO yang mulai ramai adalah sinyal pemulihan kepercayaan pasar modal dengan kualitas emiten sebagai penentu keberlanjutan momentum,” jelas Abida.

Banjir emiten IPO di sisa tahun ini juga turut dipicu oleh iklim tingkat suku bunga yang saat ini tergolong tinggi. 

Menurutnya, langkah IPO justru bertransformasi menjadi opsi pendanaan alternatif yang jauh lebih menggiurkan di kala BI Rate bertengger pada level 5,75%, lantaran tidak akan menambah beban kewajiban bunga sebagaimana skema pinjaman ke bank.

“Bagi perusahaan dengan growth story kuat, equity financing menawarkan fleksibilitas lebih baik dibanding utang berbunga tinggi saat ini,” pungkasnya.

Terkini