Kemendikdasmen: PJJ Jangkau Anak Tidak Sekolah di Wilayah 3T

Jumat, 03 Juli 2026 | 19:59:01 WIB
Tekan Angka ATS, Kemendikdasmen Optimalkan Pendidikan Jarak Jauh [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebutkan Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sukses mengubah model layanan pendidikan yang semula berfokus pada sekolah menjadi berfokus pada keperluan peserta didik, sehingga mampu merangkul Anak Tidak Sekolah (ATS).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikdasmen Suharti mengutarakan bahwa penerapan PJJ merupakan langkah instansinya guna memangkas jumlah ATS yang hingga kini angkanya masih menyentuh 4 juta anak dalam rentang umur 7-18 tahun.

“Kami bergerak dari layanan yang berpusat pada sekolah menjadi layanan yang berpusat pada kebutuhan peserta didik. Dari sekedar membuka penerimaan murid baru, menjadi gerakan aktif menemukan, menjangkau, dan mengembalikan ATS ke layanan pendidikan. Di dalam konteks inilah Pendidikan Jarak Jauh menjadi program yang sangat strategis,” kata Suharti dalam webinar bertajuk "SPMB PJJ Gerakan Mengembalikan ATS Kembali Bersekolah melalui PJJ" di Jakarta pada Jumat.

Lebih dalam ia menguraikan bahwa pengaplikasian PJJ bukan sekadar menyediakan fasilitas pendidikan yang memanfaatkan jaringan internet maupun alat TIK, melainkan sebuah perubahan sistem pendidikan yang membuat aktivitas belajar mengajar menjadi lebih fleksibel, tanpa tersekat ruang dan waktu.

Di samping itu, sambungnya, PJJ pun tidak melulu mengadakan aktivitas pendidikan secara penuh lewat ruang digital.

Ia memaparkan bahwa pengerjaan PJJ wajib menyatukan teknik luring serta daring, sehingga bisa menyediakan akses dan fasilitas pendidikan yang merata untuk ATS, termasuk anak-anak yang menetap di kawasan 3T dengan keterbatasan sarana digital.

“PJJ bukan sekedar pembelajaran menggunakan internet semata, PJJ menggabungkan pembelajaran daring dan luring, serta memberikan kesempatan kepada anak yang sebelumnya sulit mengakses sekolah reguler menjadi mudah terakses. Melalui PJJ, anak di daerah terpencil juga tetap dapat belajar,” kata Suharti.

Oleh karena itu, ia pun mengimbau jajaran pemerintah daerah beserta satuan pendidikan untuk berkolaborasi dan saling menyelaraskan langkah demi menyokong sekaligus mengontrol pengerjaan program PJJ di daerahnya masing-masing agar bisa terlaksana secara tepat sasaran.

“Ukuran keberhasilan kami bukan hanya berapa anak yang mendaftar, yang terdaftar, yang kita daftarkan, tetapi berapa anak yang bertahan belajar,” kata Suharti.

Terkini