Harga Emas Diproyeksi Tembus US$4.800 di Paruh Kedua 2026

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:39:31 WIB
Ramalan Harga Emas Dunia: Reli Lagi hingga US$4.800 [FOTO: NET].

JAKARTA – PT Doo Financial Futures memperkirakan tren penguatan harga emas dunia bakal terus berlanjut di paruh kedua 2026. Usai tertekan selama enam bulan pertama 2026, komoditas emas diprediksi kembali menanjak berkat sokongan sejumlah sentimen.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penurunan harga emas global di paruh pertama 2026 utamanya dipicu oleh keperkasaan dolar AS serta aksi ambil untung setelah lonjakan harga emas dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas melemah dari posisi US$4.446 di awal tahun ke level US$4.031,4 pada perdagangan kemarin. Tren harga emas sepanjang tahun ini menunjukkan dinamika yang berbeda ketimbang tahun 2025.

”Saya melihat sementara ini terjadi aksi ambil untung besar-besaran karena kenaikannya spektakuler ya. Jadi biarpun dihitung harga sekarang pun masih double dibandingkan dua tahun lalu,” katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Di samping itu, tren ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI booming) turut dianggap menjadi pemicu kemerosotan harga emas baru-baru ini. 

Para pemodal ditengarai ramai-ramai mengalihkan dana mereka ke sektor yang sedang menikmati momentum pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.

Kendati demikian, emas diproyeksikan tetap akan mencatatkan kenaikan sampai pengujung tahun 2026. Kebijakan The Fed yang cenderung ketat (hawkish) serta gejolak geopolitik antara Iran dan AS menjadi beberapa pendorong di balik estimasi tersebut.

”Saya melihatnya masih ada kemungkinan besar ke sekitar US$4.600—US$4.800. Jadi tetap di bawah US$5.000 untuk perkembangan saat ini. Kami bisa lihat kalau The Fed juga masih tetap hawkish, ekspektasi suku bunga malah terus naik,” katanya.

Di tengah bayang-bayang inflasi global, para pelaku pasar dinilai cenderung lebih selektif dan waspada dalam memborong emas sebagai aset aman (safe haven). Hal ini disebabkan oleh posisi harga emas yang telah melambung tinggi dibanding dua tahun ke belakang.

Meski begitu, Lukman memandang otoritas moneter atau bank sentral bakal tetap konsisten memborong emas fisik. Alhasil, tingkat permintaan fisik terhadap logam mulia ini diproyeksi masih akan kuat ke depannya.

”Kalau kami mengharapkan kenaikan spektakuler seperti sebelumnya, mungkin tidak akan terjadi. Tapi semuanya bisa terjadi, soalnya permintaan bank sentral masih akan tetap support, tetapi dari sana idealnya harga emas akan naik secara bertahap, tidak seperti dua tahun terakhir,” tegasnya.

Terkini