Rupiah Ditutup Melemah di Level Rp17.995 per Dolar AS pada 2 Juli

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:33:01 WIB
Rupiah Loyo ke Rp17.995, Sentimen Global dan Domestik Jadi Pemicu [FOTO: NET].

JAKARTA  - Nilai mata uang rupiah menyudahi sesi perdagangan Kamis (2/7/2026) dengan bergerak melemah ke level Rp17.995. Depresiasi rupiah ini bergulir selaras dengan penurunan nilai yang dialami sejumlah mata uang di kawasan Asia lainnya.

Menyadur rekaman data RTI Infokom, pergerakan mata uang regional Asia ditutup secara bervariasi. 

Yuan China terpantau menguat 0,06%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, sedangkan yen Jepang bergerak naik 0,84%. Selanjutnya, won Korea Selatan menanjak 0,69%, dolar Taiwan terdepresiasi 0,07%, dolar Singapura terapresiasi 0,20%, dan mata uang baht Thailand menguat 0,09%.

Pengamat pasar mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menguraikan bahwa stimulus global datang dari pihak Qatar yang mengabarkan bahwa Iran bersama AS telah mengukir "kemajuan positif" dalam proses dialog tidak langsung yang berakhir pada hari Rabu, dengan fokus bahasan area Selat Hormuz.

Sejumlah sumber menyebutkan para negosiator dari AS dan Iran menghabiskan waktu dua hari di Doha guna merundingkan lalu lintas maritim pada Selat Hormuz serta perihal pencairan dana milik Iran. 

Kendati arus pergerakan lalu lintas telah pulih sebagian, kedua belah negara sempat saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu pasca-insiden serangan dari Iran terhadap kapal kargo.

Di sudut lain, pasar pada saat ini memproyeksikan probabilitas kenaikan tingkat suku bunga di level 67% dalam pertemuan Fed bulan September mendatang, bersandar pada data CME FedWatch Tool. 

Menjadi instrumen aset yang tidak menawarkan imbal hasil, komoditas emas cenderung memiliki performa apik dalam iklim suku bunga yang rendah lantaran suku bunga rendah memperkecil biaya peluang untuk menggenggam logam mulia tersebut.

Menilik aspek data, Perubahan Ketenagakerjaan versi ADP memperlihatkan bahwa penggajian sektor swasta tumbuh sebesar 98.000 pada periode Juni, berada di bawah estimasi pelaku pasar yang sebesar 113.000 dan melorot dari penambahan 122.000 yang terekam pada bulan Mei.

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur ISM (PMI) menyusut menjadi 53,3 pada bulan Juni dari posisi 54,0 pada bulan Mei, meleset dari ekspektasi pasar di level 54,0. 

Atensi pasar pada saat ini bergeser pada peluncuran data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan estimasi bahwa perekonomian AS bakal mendongkrak angkatan kerjanya sejumlah 110.000. Sementara itu, Tingkat Pengangguran diproyeksikan bertahan konstan di level 4,3%.

Dari sudut domestik, tingkat kepercayaan para pelaku pasar terhadap Indonesia dinilai tengah menghadapi ujian yang lumayan berat menyusul munculnya aneka sentimen negatif saat memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi skala tinggi, kekhawatiran atas postur fiskal pemerintah usai neraca perdagangan Indonesia periode Mei mencatatkan defisit, lonjakan inflasi, hingga penundaan pengumuman mengenai pasar modal Indonesia oleh pihak penyedia indeks global MSCI.

Di luar faktor tersebut, data Purchasing Managers' Index (PMI) yang disiarkan oleh S&P Global memperlihatkan PMI Indonesia bertengger di posisi 46,9 pada bulan Juni 2026. 

Catatan ini menjadi tingkat penurunan paling tajam dalam kurun waktu setahun, di mana pesanan baru yang masuk kembali menyusut sehingga memicu penurunan volume output paling masif sejak April 2025. 

S&P menguraikan bahwa angka PMI Indonesia tersebut merefleksikan penurunan lebih jauh pada stabilitas kesehatan sektor produksi barang.

Kemudian, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memproyeksikan cadangan devisa Indonesia pada tahun 2026 hanya akan mampu mencukupi pembiayaan sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. 

Nominal tersebut sedikit lebih rendah apabila disandingkan dengan median negara peraih peringkat BBB yang sanggup mencapai 5 bulan.

Berdasarkan penilaian Fitch, penyusutan pos cadangan devisa tersebut utamanya dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat lonjakan harga energi global, langkah intervensi BI di pasar valuta asing guna menyokong posisi rupiah, serta pemenuhan pembayaran utang luar negeri.

Adapun menatap sesi perdagangan besok hari, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah bakal menyudahi perdagangan dengan bergerak melemah pada rentang Rp17.990-Rp18.050.

Terkini