Rampungkan Pabrik Baru, Citra Borneo Utama Incar Laba Melonjak 2026

Kamis, 11 Juni 2026 | 07:22:31 WIB
PT Citra Borneo Utama Tbk. (CBUT). (Foto: NET)

JAKARTA — Emiten hilirisasi kelapa sawit, PT Citra Borneo Utama Tbk. (CBUT) membidik kenaikan pendapatan serta laba bersih pada 2026, didorong oleh penyelesaian pembangunan pabrik Refinery & Fractionation II berkapasitas 1.500 Ton Per Hari (TPD) pada Juli 2026.

Berdasarkan paparan perseroan, CBUT memproyeksikan volume produksi tahun 2026 mencapai 1,16 juta ton, tumbuh 51,79% dibandingkan capaian 603.670 ton pada 2025. 

Dari sisi finansial, pendapatan diprediksi naik 59,60% menjadi Rp23,43 triliun dari sebelumnya Rp13,97 triliun, sementara laba bersih diestimasi mencapai Rp240,31 miliar, meningkat 44,18% dari Rp106,17 miliar pada 2025.

Direktur Utama CBUT Rorry Christian Tobing menyatakan bahwa perseroan tengah mempersiapkan mesin pertumbuhan anyar lewat penyelesaian pabrik Refinery & Fractionation II berkapasitas 1.500 TPD. 

Fasilitas produksi tersebut saat ini berada dalam tahap commissioning dan dijadwalkan selesai Juli 2026. Kehadiran pabrik ini bakal memperkuat fasilitas eksisting perseroan yang memiliki kapasitas produksi refinery sebesar 2.500 TPD, Kernel Crushing Plant 600 TPD, dan Molding & Filling Plant sebesar 200 TPD.

"Adanya pabrik baru akan meningkatkan volume penjualan olein dan stearin sehingga mendorong pendapatan CBUT. Kami berharap dapat mencapai target yang sudah dicanangkan," ujarnya dalam Paparan Publik, Kamis (11/6/2026).

Pabrik ini bakal menambah kapasitas refinery dan fraksinasi secara signifikan di atas kapasitas eksisting 2.500 TPD. Tambahan 1.500 TPD memungkinkan perseroan meningkatkan produksi produk turunan seperti RBDPO, Olein, dan Stearin, sekaligus memperkokoh posisi sebagai pemain hilir terintegrasi.

Momentum ekspansi tersebut selaras dengan agenda pemerintah melalui Kementerian ESDM yang akan menerapkan kebijakan mandatori Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini diperkirakan menjadi pengubah permainan (game changer) yang akan memacu ketahanan pasar domestik.

"Program B50 kami nilai sebagai katalis positif. Kebijakan ini menciptakan tambahan permintaan minyak sawit di dalam negeri dan menjaga stabilitas harga, yang sangat menguntungkan bagi CBUT sebagai pemain hilir terintegrasi," tambah Rorry.

CBUT pun optimis dukungan dari induk usaha, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS), mampu menjaga stabilitas pasokan CPO seiring peningkatan kebutuhan hilirisasi perseroan. 

Meski begitu, industri sawit tetap menghadapi tantangan dari ketidakpastian permintaan global, tingginya harga bahan baku, serta biaya logistik yang berpotensi menekan volume impor dari negara konsumen utama. Selain itu, fluktuasi harga minyak dunia turut memengaruhi tingkat adopsi biodiesel secara global.

Direktur CBUT Ronny Hertantyo Raharjo menyampaikan perseroan membukukan laba bersih Rp45 miliar pada kuartal I/2026, meningkat 9,76% dibanding Rp41 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya. 

Di sisi lain, pendapatan CBUT tercatat turun tipis 0,53% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp3,38 triliun pada tiga bulan 2026. Walau demikian, perseroan sukses menjaga profitabilitas lewat peningkatan efisiensi dan optimalisasi produk bernilai tambah.

"Penurunan tipis penjualan pada kuartal I/2026 lebih disebabkan oleh fluktuasi harga komoditas global dan ketidakpastian pasar akibat situasi geopolitik. Namun, efisiensi operasional yang ketat dan fokus kami pada produk hilir bernilai tambah tinggi membuat margin laba usaha tumbuh 19,02% menjadi Rp89 miliar," ujarnya.

Selain fokus pada pertumbuhan bisnis, CBUT mengeklaim terus memperkuat penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG). Hingga akhir 2025, perseroan mencatatkan zero fatal accident di seluruh wilayah operasionalnya. 

Dari sisi lingkungan, CBUT telah memanfaatkan energi terbarukan sebesar 16,9 juta kWh serta mengantongi berbagai sertifikasi keberlanjutan internasional. Perseroan juga memastikan ketertelusuran rantai pasok kelapa sawit dengan capaian traceability to mill sebesar 100% dan traceability to plantation lebih dari 97%.

Terkini