Google dan YouTube Rilis Buku Saku Digital Well-being Remaja

Selasa, 09 Juni 2026 | 23:16:06 WIB
Google, YouTube, PDSKJI, RSCM, dan UI resmi merilis Buku Panduan Kesehatan.

JAKARTA - Google dan YouTube, berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), RS Cipto Mangunkusumo, serta Universitas Indonesia, secara resmi meluncurkan "Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja" (Digital Wellbeing Guidebook) di Jakarta pada Senin (8/6/2026).

Pakar Psikiatri Anak dan Remaja yang juga bertindak selaku tim penulis utama, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ(K), memaparkan bahwa buku saku ini dirancang menggunakan bahasa yang sederhana agar dapat dengan mudah dimengerti oleh seluruh elemen masyarakat. 

Muatan di dalamnya meliputi fase perkembangan remaja, hambatan psikologis, hingga metode pendampingan yang berbasis pada komunikasi suportif serta keteladanan dari orang dewasa.

"Kami berharap buku ini tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi panduan praktis dalam mendampingi remaja menghadapi dinamika dunia digital yang terus berkembang," kata dia.

"Teknologi bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan alat yang perlu digunakan secara bijak. Dengan pemahaman yang baik, remaja dapat memanfaatkan teknologi untuk berkembang secara positif tanpa kehilangan keseimbangan dalam kehidupan nyata," lanjut dr. Tjhin.

Kerjasama dengan AKSI Digital 

Agenda peluncuran yang mendapatkan dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tersebut adalah kelanjutan dari program inisiatif AKSI Digital yang sudah berjalan sejak Januari lalu. 

Program ini bertujuan membekali keluarga dan sekolah dengan keterampilan praktis dalam menjaga kesejahteraan mental remaja di era digital seperti sekarang.

"Di Indonesia, YouTube telah berevolusi menjadi sumber daya yang mendorong bangsa dalam kondisi pembelajaran terus-menerus, membuka dunia penemuan dan kemungkinan bagi generasi berikutnya," ucap Director of Government Affairs and Public Policy YouTube APAC, Celeste Campbell-Pitt.

Menurut dia, kemitraan lewat inisiatif AKSI Digital ini mampu memastikan generasi masa depan dibekali pengetahuan serta ketangguhan yang mumpuni untuk berkembang di lini digital.

Peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar daring Inisiatif tersebut diselaraskan dengan program peningkatan kompetensi resmi oleh BPSDM Komdigi dan DPAPP DKI Jakarta. 

Targetnya menyasar pelatihan bagi 2.500 guru Bimbingan Konseling (BK), dengan 1.000 guru di antaranya telah merampungkan pelatihan untuk mewujudkan ekosistem belajar daring yang aman.

Langkah edukatif ini pun turut mendukung penerapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak dalam Sistem Elektronik (PP Tunas).

 Target program mencakup penguatan mental untuk remaja berumur 13-16 tahun, pelatihan pembuatan konten bagi kalangan pendidik, serta program literasi siber bersama ICT Watch demi mengantisipasi perundungan siber (cyberbullying) dan ketergantungan gawai.

Panduan memilih tontonan yang sehat dan edukatif 

Dalam mengupayakan ekosistem yang kondusif, YouTube juga menyajikan inovasi pada fitur keamanan, seperti pembatas durasi menonton Shorts serta pengingat Waktu Tidur (Bedtime Reminders) agar orangtua bisa menetapkan batasan yang sehat. 

Fitur ini selaras dengan pengaplikasian prinsip kualitas baru bagi remaja, yang mengutamakan tayangan video edukatif dan menghibur sesuai kelompok usia, sekaligus meminimalisasi paparan konten berdampak buruk. 

Hal tersebut menguatkan fungsi YouTube sebagai ruang belajar digital.

Studi dari Ipsos pada Agustus 2025 memperlihatkan bahwa 89 persen orangtua setuju anak-anak memperoleh manfaat edukasi dari platform ini, dan 92 persen menganggap pendidikan kini lebih mudah diakses. 

Dari sudut pandang pendidik, 82 persen guru menyatakan bahwa tayangan video membantu murid memahami bahan ajar yang rumit, dan 96 persen guru sudah memanfaatkannya ke dalam metode pembelajaran.

Menjadi penjaga di "pintu dan jendela" siber anak Menkomdigi Meutya Hafid memberikan apresiasi terhadap kolaborasi lintas kementerian serta lembaga daerah ini dalam rangka memperkokoh perlindungan anak. 

Menurut dia, ruang digital masa kini sudah menjadi rumah baru bagi generasi muda, sehingga orangtua dan tenaga pendidik memiliki kewajiban untuk menjaga "pintu dan jendela" anak agar senantiasa aman di dalam ruang siber.

"Melalui aturan PP Tunas, tujuan kami bukan melarang anak masuk ke dunia digital, melainkan menunda hal-hal berbahaya seperti ancaman kontak dengan orang tak dikenal, paparan konten negatif, hingga adiksi," tegas Meutya.

Meutya menaruh harapan agar pedoman ini dapat meningkatkan rasa percaya diri orangtua saat merespons pertanyaan kritis anak mengenai lanskap digital dan seluruh hal yang mereka temukan di dalamnya.

Terkini