JAKARTA - Tahun 2026 menjadi momentum kebangkitan sektor properti pasca fase stabilisasi pascapandemi. Minat beli terutama hunian tapak di wilayah penyangga Jakarta seperti Bogor dan Tangerang mulai meningkat, didorong kebutuhan keluarga muda dan end-user.
Dukungan Pemerintah dan Infrastruktur Mendorong Optimisme Properti
Perpanjangan insentif PPN Ditanggung Pemerintah hingga 2027 membuat masyarakat lebih percaya diri mempertimbangkan pembelian rumah. Pembangunan MRT, LRT, dan ruas tol baru juga ikut meningkatkan daya tarik kawasan pengembangan.
Kebijakan pemerintah yang pro-investasi memberikan ruang bagi pengembang untuk memaksimalkan proyek mereka. Akses transportasi yang semakin baik turut mendongkrak nilai properti di wilayah penyangga kota besar.
Peluang Investasi Properti di Indonesia Menurut JLL
Herully Suherman, Senior Director Capital Markers Jones Lang Lassale (JLL), menekankan Indonesia tetap menarik bagi investor properti di Asia Tenggara. Faktor stabilitas politik, ekonomi optimis, dan demografi yang besar membuat sektor perkantoran, hotel, perumahan, pusat data, industri, logistik, serta properti alternatif memiliki peluang besar.
Meski ekonomi global dipengaruhi geopolitik dan kebijakan pemerintah, pasar properti Indonesia tetap menjadi alternatif menarik. Investor kini cenderung lebih hati-hati, oportunistik, dan memerlukan proses pengambilan keputusan yang lebih panjang.
Preferensi Kawula Muda dalam Memilih Hunian
Menurut rekapan 123 Property Recap: The Youth Move, generasi muda lebih rasional dalam menilai harga dan kemampuan finansial. Mereka fokus pada fungsi hunian sesuai fase hidup, konektivitas, dan efisiensi mobilitas dibanding sekadar status lokasi pusat kota.
Ferina Giovanca, PR & Brand Specialist Rumah123, menambahkan bahwa pencarian hunian kini lebih strategis, terencana, dan berbasis value jangka panjang. Kawula muda menempatkan lokasi berdasarkan kemudahan mobilitas, bukan hanya kedekatan dengan pusat kota.
Wilayah sub-urban dengan konektivitas tinggi menjadi favorit, dengan minat pencarian tertinggi di Tangerang (13,9%), Jakarta Selatan (11,4%), dan Jakarta Barat (9,7%). Waktu tempuh dan akses transportasi menjadi pertimbangan utama dalam memilih hunian.
Transformasi dan Pengembangan Kota Mandiri Paramount Gading Serpong
Paramount Land terus menyempurnakan township Gading Serpong sebagai simbol hunian skala kota yang terintegrasi. Pengembangan ini mencerminkan kepercayaan diri perusahaan dalam membangun hunian, area komersial, dan gaya hidup modern.
Kota mandiri Gading Serpong kini dihuni sekitar 120 ribu penduduk, belum termasuk komuter harian. Area komersial memiliki okupansi tinggi, mendukung aktivitas masyarakat untuk tinggal, berbisnis, dan meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.
Menurut Chrissandy Dave, Direktur Paramount Land, fokus pengembangan adalah menciptakan lingkungan hunian dan komersial yang nyaman, aman, dan bertumbuh. Identitas “Paramount Gading Serpong” lahir dari transformasi berkelanjutan, bukan sekadar penyegaran visual, tetapi simbol komitmen terhadap pembangunan kota yang responsif.
Pertumbuhan kota ini menjadikannya destinasi favorit masyarakat Jabodetabek. Peningkatan traffic penghuni dan komuter setiap harinya menunjukkan daya tarik kawasan yang terus berkembang.
Suburban dan Mobilitas Jadi Fokus Pasar Properti 2026
Tahun 2026 menunjukkan bahwa minat beli properti tidak lagi hanya terpaku pada pusat kota. Kawula muda memilih hunian sub-urban dengan konektivitas tinggi untuk efisiensi mobilitas dan nilai investasi jangka panjang.
Dukungan pemerintah melalui insentif PPN dan pembangunan infrastruktur, serta strategi pengembang seperti Paramount Gading Serpong, membuat pasar properti semakin menarik. Properti yang terintegrasi antara hunian, komersial, dan gaya hidup modern menjadi pilihan utama masyarakat dan investor.