JAKARTA - PT Garuda Indonesia akan menjadi induk holding maskapai nasional sebagai bagian dari transformasi ekosistem penerbangan.
Langkah ini diambil untuk memperkuat struktur industri, meningkatkan efisiensi, dan mempercepat pemulihan sektor aviasi. Proses ini menjadi tonggak penting dalam konsolidasi BUMN di bidang transportasi udara.
Garuda Indonesia Jadi Induk Holding Maskapai
PT Garuda Indonesia ditunjuk sebagai holding maskapai penerbangan nasional pada kuartal pertama 2026. Langkah ini dilakukan dalam kerangka restrukturisasi dan konsolidasi ekosistem aviasi yang digagas BPI Danantara. Penunjukan Garuda diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan industri penerbangan domestik.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan penunjukan Garuda sejalan dengan rencana transformasi pemerintah. Ia meminta publik memisahkan persoalan historis Garuda dengan strategi besar ekosistem airlines nasional. Menurutnya, pemisahan ini penting agar fokus tetap pada tujuan besar pembangunan industri penerbangan.
Dony menekankan setiap bisnis harus menyatu dalam ekosistem airlines nasional. Hal ini menjadi prinsip utama dalam membentuk holding maskapai. Integrasi tersebut diharapkan menciptakan sinergi antara seluruh entitas yang terlibat.
Tujuan Pembentukan Holding Maskapai
Pembentukan holding maskapai bertujuan memperkuat struktur industri penerbangan nasional. Hal ini juga diharapkan meningkatkan efisiensi operasional seluruh maskapai. Selain itu, langkah ini mempercepat pemulihan dan pertumbuhan sektor aviasi di masa mendatang.
Melalui holding, koordinasi antara induk dan anak usaha dapat berjalan lebih efektif. Struktur manajemen yang jelas akan meminimalkan duplikasi fungsi dan sumber daya. Dengan demikian, setiap lini bisnis dapat berjalan lebih optimal.
Langkah ini juga memberi kepastian bagi pemangku kepentingan terkait strategi pengembangan maskapai nasional. Penataan yang lebih rapi diharapkan meningkatkan daya saing industri penerbangan. Pada akhirnya, sektor aviasi nasional dapat lebih tangguh menghadapi dinamika pasar.
Konsolidasi BUMN untuk Efisiensi
Danantara menargetkan pengurangan anak hingga cucu usaha BUMN dari 1.043 entitas menjadi 300 entitas. Langkah ini merupakan bagian dari upaya konsolidasi BUMN secara menyeluruh. Fokus utama adalah menyederhanakan struktur dan mempermudah pemantauan.
Dony menegaskan konsolidasi adalah pekerjaan penting yang harus dilakukan saat ini. Memantau lebih dari seribu entitas dinilai sangat sulit. Namun, jika jumlah entitas dikurangi menjadi 300 dan dibagi per sektor, pengelolaan menjadi lebih efisien.
Secara logis, pemetaan per sektor mempermudah pengawasan dan pengambilan keputusan. Dari 300 entitas, hanya 16 sektor utama yang menjadi fokus pengelolaan. Strategi ini membantu BUMN bekerja lebih sistematis dan terstruktur.
Dampak Konsolidasi pada Kinerja BUMN
Konsolidasi diharapkan meningkatkan kinerja bottom line BUMN secara signifikan. Efisiensi terbesar berasal dari pemangkasan proses transaksi antar anak usaha. Selama ini, anak-anak perusahaan sering mengerjakan proyek induk, menimbulkan inefisiensi hingga Rp 30 triliun per tahun.
Penutupan anak usaha yang merugi juga langsung menambah keuntungan BUMN. Dony menjelaskan langkah ini akan meningkatkan bottom line senilai Rp 20 triliun. Secara total, konsolidasi dapat menambah nilai sekitar Rp 50 triliun bagi BUMN secara keseluruhan.
Langkah ini bukan hanya soal angka, tetapi juga memperbaiki tata kelola perusahaan. Dengan struktur yang lebih ramping, perusahaan dapat bekerja lebih fokus dan efisien. Hasilnya, sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pertumbuhan jangka panjang.
Kepastian bagi Karyawan dan Keberlanjutan
Dony memastikan konsolidasi tidak akan menimbulkan pemangkasan hubungan kerja. Karyawan dari perusahaan yang ditutup akan bergabung dengan entitas yang bertahan. Hal ini memberikan kepastian kerja bagi seluruh staf yang terdampak.
Para pekerja tetap memiliki posisi yang aman dan tidak perlu khawatir kehilangan pekerjaan. Langkah ini menegaskan bahwa konsolidasi dilakukan untuk efisiensi, bukan pengurangan tenaga kerja. Fokus utama tetap pada penguatan ekosistem industri dan keberlanjutan operasional maskapai.
Kebijakan ini juga menegaskan komitmen BUMN untuk memprioritaskan kesejahteraan karyawan. Sinergi antara induk dan anak usaha dapat berjalan tanpa mengorbankan sumber daya manusia. Pada akhirnya, proses konsolidasi bertujuan menghadirkan industri penerbangan nasional yang lebih solid, efisien, dan berkelanjutan.