JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia terus mematangkan persiapan menghadapi lonjakan penumpang pada periode mudik Lebaran 2026.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah pengoperasian kereta api tambahan. Hingga kini, seluruh rencana tersebut masih berada dalam tahap finalisasi internal.
Kesiapan operasional menjadi fokus utama dalam mendukung kelancaran Angkutan Lebaran. Setiap kebijakan disusun dengan mempertimbangkan keselamatan dan kenyamanan penumpang. KAI memastikan seluruh rencana berjalan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa perusahaan terus menyiapkan langkah operasional. “KAI terus menyiapkan langkah operasional untuk mendukung kelancaran Angkutan Lebaran, termasuk rencana pengoperasian KA tambahan yang akan diumumkan setelah proses finalisasi,” kata Anne. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen KAI dalam pelayanan mudik.
Tingginya Antusiasme Pemesanan Tiket Lebaran
Hingga pukul 10.00 WIB, total pemesanan tiket periode 11 Maret hingga 22 Maret 2026 telah mencapai 496.967 tiket. Angka ini menunjukkan tingginya minat masyarakat menggunakan kereta api. Penjualan diperkirakan terus meningkat seiring waktu.
“Saat ini, pemesanan tiket baru dapat dilakukan hingga 22 Maret 2026 sesuai skema H-45, dan angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring masih berlangsungnya penjualan,” kata Anne. Skema tersebut memberi kesempatan masyarakat merencanakan perjalanan lebih awal. Pola ini juga membantu pengelolaan kapasitas angkutan.
Melalui pengaturan Angkutan Lebaran 2026, KAI membuka penjualan tiket secara bertahap. Penjualan dimulai dari H-3, H-2, H-1, H1, hingga H2 Lebaran. Strategi ini disusun untuk mendukung distribusi penumpang yang lebih merata.
Pola Penjualan Bertahap Atur Arus Penumpang
Pola penjualan tiket bertahap dirancang untuk memberikan fleksibilitas waktu perjalanan. Selain itu, kebijakan ini membantu mengurangi kepadatan pada tanggal tertentu. Pengelolaan arus penumpang menjadi lebih seimbang.
Anne menjelaskan bahwa pengaturan ini memberikan manfaat bagi pelanggan. Masyarakat dapat memilih waktu keberangkatan sesuai kebutuhan. Ketersediaan jadwal juga menjadi lebih variatif.
Dengan sistem tersebut, KAI dapat memantau tren perjalanan secara lebih akurat. Data pemesanan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan operasional. Langkah ini mendukung kelancaran layanan selama periode Lebaran.
Rincian Penjualan Tiket Pada Puncak Mudik
Pada H-3 Lebaran atau 18 Maret 2026, tercatat 58.430 tiket telah terjual. Angka ini menunjukkan tingginya permintaan pada awal masa puncak mudik. Hari tersebut menjadi salah satu tanggal favorit penumpang.
Penjualan tiket H-2 Lebaran atau 19 Maret 2026 mencapai 60.577 tiket. Jumlah tersebut menjadi angka tertinggi dalam periode pemesanan. Minat masyarakat terlihat sangat kuat pada tanggal ini.
Untuk H-1 Lebaran atau 20 Maret 2026, tiket yang telah dipesan mencapai 47.490 tiket. Sementara itu, pada H1 Lebaran tercatat 41.228 tiket terjual. Pada H2 Lebaran, jumlah pemesanan mencapai 39.802 tiket.
Ketersediaan Tiket Dan Kesiapan Sarana
Berdasarkan data tersebut, H-3 dan H-2 Lebaran menjadi tanggal keberangkatan dengan pemesanan tertinggi. Meski demikian, tiket pada tanggal lain masih tersedia. Masyarakat dapat memanfaatkan alternatif perjalanan tersebut.
Penerapan skema penjualan H-45 memungkinkan pengelolaan penumpang lebih proporsional. Anna mengatakan perencanaan sejak dini memberi peluang lebih besar bagi pelanggan. Pilihan jadwal dan layanan reguler dapat disesuaikan kebutuhan.
Selain pengaturan tiket, KAI melakukan pemeriksaan menyeluruh sarana perkeretaapian. Pemeriksaan mencakup lokomotif dan rangkaian kereta. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh layanan berjalan aman dan andal selama Angkutan Lebaran 2026.