JAKARTA - Di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, pekerjaan penderes kelapa kini menghadapi perubahan besar karena makin sedikit warga yang berminat menekuninya.
Aktivitas menyadap nira dari pohon kelapa yang menjulang tinggi tidak lagi menjadi pilihan utama mata pencaharian masyarakat setempat. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan keberlanjutan produksi gula kelapa yang dahulu menjadi tumpuan ekonomi desa.
Wawan Ruswandi, anggota Gapoktan Margo Utomo, menggambarkan situasi tersebut dengan menyebut hanya satu orang yang masih bertahan menjalani profesi sebagai penderes. “Sekarang, di desa saya, cuma satu orang yang masih bertahan sebagai penderes,” ujarnya.
Ia menilai pekerjaan itu memang sudah tidak diminati lagi oleh generasi sekarang karena dinilai berisiko dan berat.
Dahulu, hampir setiap keluarga di desa tersebut menggantungkan hidup dari pohon kelapa dan produksi gula. Aktivitas penderesan menjadi rutinitas harian yang menyatukan kehidupan sosial dan ekonomi warga. Namun, seiring waktu, tantangan keselamatan kerja membuat profesi ini perlahan ditinggalkan.
Risiko Keselamatan dan Penurunan Minat
Risiko kecelakaan kerja menjadi faktor utama yang menyebabkan pekerjaan penderes kehilangan pamor. Pohon kelapa yang tinggi menuntut keterampilan memanjat serta keberanian ekstra, sehingga potensi jatuh dan cedera selalu mengintai. “Pohon tinggi, banyak terjadi kecelakaan, jadi orang menghindari pekerjaan itu,” ungkap Wawan.
Kondisi tersebut membuat masyarakat lebih memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih aman. Ketidakpastian keselamatan menjadi pertimbangan besar, terutama bagi generasi muda yang melihat risiko lebih besar dibandingkan hasil yang diperoleh. Akibatnya, jumlah penderes terus menurun dari tahun ke tahun.
Menurunnya minat ini berdampak langsung pada produksi gula kelapa. Jika tidak ada upaya pembaruan, tradisi dan mata pencaharian yang telah berlangsung lama dikhawatirkan akan hilang. Situasi inilah yang mendorong munculnya gagasan untuk mencari solusi yang lebih aman dan berkelanjutan.
Munculnya Solusi Kelapa Genjah
Harapan baru mulai terlihat melalui program pengembangan kelapa genjah, yaitu varietas kelapa pendek yang dapat dipanen pada ketinggian sekitar satu hingga dua meter. Tanaman ini memungkinkan proses penyadapan nira dilakukan tanpa harus memanjat tinggi. Dengan demikian, risiko kecelakaan kerja dapat ditekan secara signifikan.
Wawan menyebut bahwa pendekatan ini diharapkan dapat menarik kembali minat petani untuk memproduksi gula kelapa. “Kami coba supaya petani bisa kembali memproduksi gula dengan kelapa yang pendek,” katanya. Inovasi tersebut dinilai sebagai langkah adaptif terhadap tantangan keselamatan dan perubahan minat tenaga kerja.
Program kelapa genjah juga dianggap relevan dengan kondisi sosial saat ini. Dengan teknologi dan varietas yang lebih aman, pekerjaan penderes berpotensi kembali dipandang layak dan menjanjikan. Hal ini membuka peluang regenerasi petani gula kelapa di desa.
Distribusi Bibit dan Tantangan Awal
Di Desa Paningkaban, sebanyak sekitar 2.440 bibit kelapa genjah direncanakan untuk didistribusikan kepada petani. Namun, hingga kini baru sekitar 500 bibit yang telah diterima dan ditanam. Bibit tersebut telah berada di lahan petani selama lima hingga enam bulan terakhir.
Keterbatasan jumlah bibit yang datang menjadi tantangan awal dalam pelaksanaan program. Meski demikian, para petani tetap optimistis karena pertumbuhan tanaman menunjukkan potensi yang baik. Program ini dipandang sangat prospektif mengingat jumlah penderes yang terus menyusut.
Wawan menilai kelapa genjah dapat menjadi jawaban atas persoalan keberlanjutan produksi gula kelapa. Dengan tanaman yang lebih mudah dikelola, hambatan keselamatan dapat dikurangi. Harapannya, distribusi bibit dapat segera dilanjutkan agar manfaatnya dirasakan lebih luas.
Dampak Ekonomi dan Harapan Ke Depan
Saat ini, satu-satunya penderes yang masih bertahan di desa tersebut menggarap sekitar 15 pohon kelapa. Dari jumlah itu, ia mampu menghasilkan gula cetak sekitar tiga hingga lima kilogram per hari. Angka ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi gula kelapa masih ada meskipun jumlah pelakunya terbatas.
Keberadaan kelapa genjah diharapkan dapat meningkatkan kembali produksi sekaligus menarik minat warga lain. Jika lebih banyak petani terlibat, roda ekonomi desa berpeluang kembali bergerak. Selain itu, ketergantungan pada satu penderes saja dapat dikurangi secara bertahap.
Program ini juga membawa harapan untuk menjaga warisan budaya dan ekonomi lokal. Produksi gula kelapa bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas desa. Dengan pendekatan yang lebih aman dan modern, masa depan penderes kelapa di Paningkaban diharapkan kembali cerah.